Gabriel Attal dan Rumah Tangga Gay

Oleh: Herlinto. A

Gabriel Attal, perdana menteri Prancis yang gay. Foto/Pinterest

Mazhabkepanjen.com - Perdana menteri Prancis terbaru Gabriel Attal, lagi menjadi topik hangat di perbincangan publik, internasional termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat dia viral. 

Pertama, dia menjadi perdana menteri termuda sepanjang sejarah Prancis. Dia usianya masih 34 tahun, berarti dia lahir pada 1990. Bisa jadi seusia Anda yang lagi baca artikel ini.

 Usia ini dua tahun lebih muda dari Gibran yang kini jadi Cawapres Prabowo. Ini bisa jadi senjata bagi pendukung Prabowo dan tim suksesnya. Bahwa pemimpin tak harus tua. Anak-anak muda yang punya semangat, kredibilitas, kejujuran, layak diberikan kesempatan memimpin. Tapi persoalannya, apakah Gibran punya itu? 

Bukankah dia cenderung karbitan dan tak ada karier yang jelas di politik, kecuali tiba-tiba nyalon Wali Kota Solo. Apalagi kemarin sudah menyiasati usia capres menggunakan sang paman, Anwar Usman di MK.

Baca JugaProtocols of Zion, Blue Print Yahudi yang Bocor

Kedua, dia juga menjadi perdana menteri yang terbuka menyatakan diri sebagai gay. Ini yang belum terbayangkan di Indonesia dan di beberapa negara lain yang belum “mengakui” gay atau LGBT. Memang di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya, persoalan negara tidak disangkutpautkan dengan preferensi atau orientasi seksual seseorang.

Bahkan tidak disangkutpautkan dengan agama. Itu yang biasa disebut sebagai negara sekuler. Artinya, persetan dia mau agama apa, mau menikahi siapa, menikah dengan boneka pun nggak ada soal sejauh dia mampu menjalankan tata kenegaraan dengan baik.

Jadi fungsi kepublikan dia tidak boleh diganggu oleh hal-hal yang sifatnya privat. Ini memang suatu semangat yang khas di Barat melalui sekularisme dan liberalisme. Kita beberapa waktu lalu sempat ramai Ragil Mahardika yang menikah dengan pasangan gaynya orang Jerman. Di Indonesia habis dihujat, hingga Deddy Corbizier harus mentakedown video mereka berdua.

Rumah Tangga Gay

Saya ingin sedikit bercerita soal gay. Sebetulnya, walaupun mereka itu disebut homoseksual, tetapi konstruksi mereka dalam rumah tangga bahkan dalam hubungan seksual pun tetap heteroseksual secara fungsi. Suatu saat, saya pernah ikut teman penelitian di suatu komunitas gay di Malang. Mereka berada dalam satu komunitas yang disebut Igama (Ikatan Gay Malang).

Baca Juga5 Buku Logika yang Bikin Kamu Berpikir Tertata

Ada pertanyaan menarik saat itu, mereka yang sama-sama laki kalau berhubungan biologis siapa di atas dan siapa di bawah atau bisa bolak-balik? Ternyata tidak bolak-balik. Ada yang di bawah, sebagai istrilah kira-kira dan di atas sebagai suami. 

Yang di bawah ini yang biasa dikenal dengan sebutan gay sisi, atau gay bottom, sementara yang di atas gay up. Kalau Ragil Mahardika itu sepertinya gay bottom, makanya dia menyebut orang Jerman itu sebagai suami.

Lalu apa yang membuat mereka bisa nyaman di bawah atau di atas? Menurut yang kami temukan di lapangan, pengalaman pertama mereka yang menentukan. Ketika mereka pertama kali hubungan badan merasa enak di bawah, maka mereka akan cenderung menjadi gay sisi, dan sebaliknya jika mereka lebih nyaman di atas mereka akan cenderung jadi gay up.

Jadi, peran sosial dan seksual mereka tidak homo tetapi tetap hetero. Itu artinya, konstruksi feminim dan maskulin itu tidak bisa dibuang. Walaupun mereka menolak bahwa maskulin harus selalu laki-laki dan feminim selalu perempuan. Bagi mereka bisa bolak-balik, ini yang banyak mendapat penentangan di beberapa tempat, baik secara agama, budaya dan sebagian psikologis.

Baik, kita kembali ke Gabriel Attal. Jadi Attal memang politisi muda, pada tahun 2006, saat dia usia masih 16 tahun kalau di Indonesia masih SMA, dia sudah masuk menjadi anggota partai sosialis cenderung ke kiri-kirian. Ini yang tidak dilakukan Gibran sebelum menjadi Wali Kota Solo. Attal aktif dalam kampanye-kampanye pemilihan capres yang diusung oleh partai sosialis itu pada tahun 2007.

Dia mulai masuk di pemerintahan pada tahun 2012, di usia 23 tahun. Saat itu di kementerian kesehatan Prancis. Pada tahun 2016, dia keluar dari partai sosialis dan bergabung bersama Emmanuel Macron, Presiden Prancis, di partai En Marche. Kemudian jadi sekretaris menteri pendidikan dan menjadi menteri pendidikan. Ini suatu karier yang luar biasa di usia yang masih muda.

Saat itu, ada kontraversi yang dia buat yaitu larangan menggunakan abaya bagi anak-anak muslim di sekolah negeri. Bagi dia, Prancis menggunakan hukum sekuler. Karena itu penggunaan abaya di sekolah dianggap melanggar hukum sekuler yang ketat. 

Ini menarik, karena sekulerpun bisa jadi kaku dengan hukumnya sendiri. Kita tahu di Prancis, menurut data CNN, ada sebanyak 3,35 juta muslim, jadi wajar ketika kebijakannya itu mendapat banyak sorotan.

Hingga kemudian dia dianggap sebagai “Golden Boy” dalam politik oleh Emanuel Macron. Dan, dinobatkan sebagai perdana menteri pada Selasa, tanggal 9 Januari 2024. Dia menggantikan Elizabeth Borne yang mengundurkan. 

Nah, begitulah cerita sekilas tentang seorang gay yang kini menjadi kepala pemerintahan di Prancis. Apakah ini bisa menjadi pemantik untuk menepis banyak stereotipe tentang gay? Di negara-negara Barat mungkin iya, tetapi sepertinya di negara-negara timur tidak.

"
"