Posts

Apa Derita Dunia Bila Agama Mundur

Oleh: Herlianto A
Terlepas apakah mungkin seorang atheis betul-betul bisa menjadi “kaffah” keatehisannya, rupanya tak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa atheis dapat hidup secara bermoral. Berdampingan dengan orang lain secara damai, menghormati perbedaan, memperlakukan tetangga dengan baik, dan menempatkan manusia sebagai manusia.
Berkaca dengan ini, tradisi Barat lalu meyakini sekulerisasi sebagai jalan yang “menjanjikan” menuju rumah masa dapan. Setidaknya ini yang digambarkan oleh Charles Taylor dalam buku “A Secular Age”. Tak heran, bila di Barat (Eropa) ada gereja yang dijual dijadikan museum, atau dibeli muslim kaya utuk diubah menjadi masjid. Dan nyatanya, meski perlu penjelasan yang panjang proses kausalnya, Barat dapat berkembang dan maju secara sosial. Atau setidaknya, kita saat ini sedang berlomba ingin seperti Barat secara sosial.
Sebaliknya, pada beberapa kasus seorang pemeluk agama tak henti-hentinya mengusik atheis, alergi dengan perbedaan, phobia dengan simbol-si…

Tak Ada Takjil, Apa Setelah Ramadan?

Apa Hak Anda Menerjemah (Teks Filsafat)

Dongeng dan Realitas Sosial-Budaya Orang Bajo

Sokrates Dibunuh di Negara Demokratis

Melebur Totem “Kampret” dan “Cebong”

Perempuan, Dapur, Ranjang dan Publik

TRENDING:

"Rokoknya Masih Ada" Kata Mahasiswa Tua Pada Yang Muda

Stoisisme: Dari Pantheisme Hingga Logika Proposisi

Apa Derita Dunia Bila Agama Mundur

Tawadu’ Ala Santri: Sebuah Alternatif Diskursus Etika Politik

LGBT Itu Wangi Lho!

Feminist or Not? It's Okey

Oksidentalisme: Proyek “Ambisius” Hassan Hanafi

Peta Pemikiran Barat (2): Abad Modern

Materialisme Dialektis: Konsep Pengetahuan Marxisme Sebagai Epistemologi Kiri

Jogja dan Buku

VIEWER