Postingan

Mendaras Filsafat Sambil Ngopi

Oleh: Herlianto A
Seberapa bermakna ngopi itu bergantung pada tujuan dan apa yang dilakukan saat ngopi. Bagi seorang pekerja (profesional) yang jadwal kerjanya padat setiap minggunya, ngopi menjadi semacam piknik kecil-kecilan untuk menghapus segala penat dan suntuknya suasana karena kesibukan. Mereka lalu lebih cenderung ngobrol ringan-ringan penuh humor agar muncul tawa, syaraf-syaraf otak melonggar dan lentur kembali. Isu-isu politik, bisnis, wisata disinggung bagian-bagian yang humoriknya saja.
Suatu pertemanan juga dapat diikat di warung kopi. Teman lama yang baru ngechat digiring ke warung kopi agar lebih lepas membincang pengalaman masing-masing dan tentu saja masa lalu. Apa yang pernah terjadi baik yang menyenangkan pun yang menyedihkan semuanya menjadi menggembirakan dan dibanggakan termasuk kenakalan, kecurangan, dst. Inilah suatu style ngopi di perkotaan saat ini.
Dilihat dari sejarahnya, ngopi memang mengalami perkembangan dan perluasan yang begitu mengagumkan. Warung kop…

Strukturalisme: Pernikahan Itu Seperti Bahasa

ARTIKEL TERPOPULER:

"Rokoknya Masih Ada" Kata Mahasiswa Tua Pada Yang Muda

Mendaras Filsafat Sambil Ngopi

Stoisisme: Dari Pantheisme Hingga Logika Proposisi

Seks, Seks, dan Seksualitas

Sosialisme Marx: Dari Utopis Ke Ilmiah

Strukturalisme: Pernikahan Itu Seperti Bahasa

Wedhus: Perlawanan Seni Kaum Hawa Terhadap Adam

Tak Cukup Katakan “Colorless Green Ideas Sleep Furiously” Pada Chomsky

Tawadu’ Ala Santri: Sebuah Alternatif Diskursus Etika Politik

Jogja dan Buku

PENGUNJUNG

Foto saya
mazhabkepanjen.com
Herlianto A, lahir di pulau mungil Masalembu, Sumenep. Menulis buku pertama Mahasiswa Dalam Pergulatan Politik. Buku kedua Berjabat Tangan Dengan Filsafat: Epistemologi, Ontologi, Etika dan Estetika. Saat ini sedang menekuni kajian sosial dan filsafat dan menuntaskan buku ketiganya Pengetahuan dan Tuhan: Studi Komparatif Al Ghazali dan Desacrtes. Awardee LPDP di Magister Linguistik UGM.