Kenabian, Humanisme dan Sosialisme


Oleh: Herlianto A
Sumber: theosthinktank.co.uk

“Sosialisme haruslah radikal, menjadi radikal berarti kembali ke akar. Dan akarnya adalah manusia itu sendiri,” petikan terakhir dari artikel menawan Erich Fromm berjudul Sosialisme Humanistik dalam antologi esai On Disobedience And Other Essay. Kalimat itu menjadi aforisme visinya sebagai seorang humanis yang marxis.

Humanisme, bagi Fromm, adalah diskursus baru yang mestinya digandrungi setelah manusia dalam sejarahnya mengalami alienasi oleh manusia lainnya yang duduk dipucuk kekuasaan, baik kekuasaan berupa agama seperti yang dipraktikkan Gereja abad pertengahan, maupun kekuasaan modal (materi) seperti yang dipraktikkan tuan tanah, borjuis, hingga kapitalis.

Humanisme dalam banyak pengertian, menurut Budi Hardiman, adalah istilah yang sangat licin sebetulnya. Artinya, pemahaman atasnya lentur dan berkembang dengan corak-corak tertentu. Peradaban Yunani yang mengeksplorasi potensi rasional manusia dengan mengesampingkan segala atribut rasialnya, termasuk peletak dasar humanisme universal. Manusia dijadikan takaran atau neraca umum dalam menilai suatu perkara.[1]

Humanisme universal, lanjut Budi Hardiman, bergeser menjadi humanisme kritis ketika memasuki abad pertengahan. Di mana era ini manusia menjadi kurang bernilai, dan semua takarannya adalah teokrasi Gereja. Tetapi ketika alat cetak lahir, alkitab diperbanyak. Lalu semua orang dapat memilikinya, maka mereka berupaya menafsir alkitab itu secara sendiri. Alhasil umat menggugat teodisi dan antropodisi yang dipraktikkan para agamawan. Orang-orang macam Erasmus, Lorenzo Valla, Thomas More, Shakespeare, dst adalah para menggugatnya.

Mereka menegaskan bahwa manusia ideal bukan lagi kehidupan asketik seperti pendeta atau para biksu, lora, dan gus, melainkan manusia universal yang disebut “manusia renaisans” yang memiliki berbagai segi personalitas.[2]  Humanisme diseret menjadi pemikiran yang berupaya penuh untuk kebaikan yang lebih bagi semua manusia di dunia secara alamiah yang kemudian mengembangkan potensi rasionya, ilmu, dan kehidupan demokrasinya.  

Manusia lalu menjadi pusat segalanya, potensinya kembali dikelola sedemikian rupa. Aneka ragam pemikiran turut menyisipkan humanisme dalam visi mereka, mulai dari protestanisme, rasionalisme aufklarung, romantisisme, positivisme, marxisme, liberalisme, eksistensialisme hingga pragmatisme.

Prinsipnya dua. Pertama, humanisme dimulai dari suatu pemberontakan, ala berontaknya Adam di surga dan Prometheus yang mencuri api Zeus. Hanya melalui berontak dan berkata tidak pada anti humanis itulah yang membuat humanisme dapat lahir. Kedua, manusia bukan binatang juga bukan malaikat, manusia adalah apa yang diperbuatnya sendiri. Dengan demikian, manusia bisa menjadi binatang dan juga bisa menjadi malaikat bergantung upayanya.

Dalam suasana demikian Erich Fromm, seorang ahli psikolog, hadir membawa pandangan eklektik yaitu humanisme dan marxisme yang kemudian menjadi sosialisme humanistik. Bahwa marxisme adalah satu dari sekian pandangan yang sangat unik (serta revolusioner) dalam membebaskan manusia dari belenggu kapitalisme yang menjadi problem terbesar manusia di abad ke 20.

Dia kembali menggali nomeklatur-nomenklatur Marx muda yang humanis, misalnya “esensi manusia”, “manusia yang dilumpuhkan”, “keterasingan”, “kesadaran”, “independensi”, dst.[3] Hal inilah yang membuat Fromm berbeda pandangan dengan marxis yang bergejelok di awal abad 20, seperti yang terjadi di Soviet dalam bayang-bayang Lenin dan Stalin, atau Naziisme dalam dekapan Hitler di Jerman.

Alih-alih menyetujuinya, menurut Fromm, justru marxis Soviet terjebak pada kediktatoran yang berseberangan dengan humanisme Marx. Di sisi lain, mereka berlebihan mengejar materi (ekonomi) sehingga tak ubahnya kapitalis itu sendiri, yang sebetulnya dikutuk.

“Prinsip mengejar materi adalah persis prinsip kerja kapitalis. Masyarakat kapitalis itulah yang menempatkan kepentingan materi sebagai motor utama aktivitasnya, sedangkan sosialisme memiliki dimensi-dimensi non-materi yang patut diperjuangkan manusia demi membebaskan manusia dari perbudakan materi,” demikian kritik Fromm.[4]     

Dengan demikian Fromm ingin meletakkan sosialisme sebagai yang peduli pada eksistensi hidup manusia beserta individualitasnya. Dia ingin mengembalikan “manusia universal” era Yunani. Di mana manusia dididik secara kalos kagatos (yaitu kesehatan pikiran dan tubuh) dalam bingkai Paideia. Pendidikan yang diberikan bukan saja yang bersifat teknik atau keterampilan kerja seperti yang dimau kapitalis, tetapi juga berkaitan dengan seni dan olah batin lainnya dimana jiwa dikembangkan. Sehingga yang terlahir adalah sosok-sosok yang lebih humanis.    

Untuk melengkapi pandangan humanisnya, Fromm menulis buku To Have or To Be? (Mempunyai atau Mengada). Buku ini mengupas hakikat eksistensial manusia dan persinggungannya terhadap materi. Bahwa seharusnya, terhadap materi, manusia bukan memiliki (to have) tetapi mengada (to be). Menggunakannya untuk kebutuhan dasar hidupnya bukan mengakumulasinya.

Karena memiliki adalah merusak, persis seperti seseorang yang menyukai bunga lalu memetiknya. Alhasil bunga itu layu dan mati, tetapi mereka yang mengutamakan mengada akan membiarkan bunga itu tetap hidup bersamanya. Dalam hal ini, Fromm membandingkan tradisi Timur terutama Ajaran-Ajaran Budisme Zen dengan tradisi Barat. Barat dengan kapitalismenya adalah rakus.[5]

Singkatnya sosialisme humanistik adalah “manusia menjadi tuan atas modal, bukan abdi modal; […] manusia mengatur situasi bukan disetir situasi; […] anggota masyarakat merencanakan apa yang mereka ingin produksi bukannya produksi mereka mengikuti hukum-hukum kekuasaan impersonal pasar dan modal yang pada prinsipnya mengejar profit sebesar-besarnya,”[6]

Fromm juga tidak menutup pintu agama terutama sisi yang berbicara humanisme. Bagi dia tidak sedikit teolog Kristen, Protestan, dan Islam yang berbicara cinta, toleransi, dan perdamaian untuk manusia. Wahyu-wahyu yang diturun tak terkecuali mengajarkan mencintai sesama manusia. Dalam Budhisme sebagaimana diajarkan Sidharta Gautama juga ada nilai kemanusiaan.

Karena itu, kita tidak heran ketika melihat pejuang-pejuang kemanusiaan sekaligus agamwan yang taat. Lihat saja apa yang dilakukan Gandhi di India. Betapa ajaran Hindu menguatkan perlawanannnya atas kolonialis. Lihat Muhammad Iqbal di Pakistan, Ali Syaiati di Iran, Hasyim As’ary di Indonesia.

Mereka menempatkan nilai-nilai kemanusiaan Islam yang dirisalahkan oleh nabinya sebagai spirit perlawanannya. Atau yang lebih sedikit agak revolusioner adalah teologi pembebasan yang berkembang di Amerika Latin macam Gustavo Gutierrez, Martin Luther King dan koleganya.  

Karena itu, kenabian (nubuah) dan ketuhanan tidak bertentangan dengan humanisme. Jika kemudian ada yang mempertentangkan humanisme dengan kenabian dan ketuhanan, tentu saja itu salah satu faksi dari humanisme, dan bukan keseluruhan faksi. Faksi tersebut ialah eksistensialisme Sartrean dan liberalisme.

Dengan demikian, kenabian, humanisme dan sosialisme merupaka satu garis linear yang tidak saling meniadakan, dan malah saling menguatkan. Karena ketiganya bergerak dalam satu jalinan benang yang sama yaitu memanusiakan manusia.

[1] Budi Hardiman. (2012). Humanisme dan Sesudahnya: Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
[2] Corliss Lamont. (1997). The Philosophy of Humanism. New York: Humanist Press., hal 21
[3] Erich Fromm. (2019). Dari Pembangkangan Menuju Sosialisme Humanistik. Bogor: Bojong Depok Baru,, hal 15
[4] Erich Fromm. (2019). Dari Pembangkangan Menuju Sosialisme Humanistik., hal 106
[5] ErichFromm. (2019). Mempunyai Atau Mengada, To Have or To Be?. Yogyakarta: IRCiSoD., hal 32
[6] Erich Fromm. (2019). Dari Pembangkangan Menuju Sosialisme Humanistik.,117

"
"

Post a Comment

0 Comments