Ngikuti Sunah kok Nanggung?


Oleh: Ahmad Dahri, penulis buku “Hitamkah Putih Itu”
 
Sumber: surgadpbbm.blogspot.com
ليلي بوجهك مشرق
وضلامه في الناس ساري
والناس في سدق الضلام
ونحن في ضوء النهار

Malam menebar cahayanya
dengan wajah kaum sari yang bermuram durja
bila kebanyakan manusia merasa malamnya gelap
namun kita(umat Muhammad) berada dalam terangnya cahaya.

Sebagai umat Muhammad patutnya mengikuti setiap langkah yang dicontohkan beliau. Mengikuti sunahnya yang baik adalah selalu mengembangkan apa yang menjadi perilaku konsisten (istiqamah), yang akan selalu berkembang dan berkembang. Boleh jadi hal inilah yang dikenal sebagai derajat atau tingkatan manusia. Perihal mengikuti secara mutlak atau tidak, tidak mengganggu sikap iman kita kepadanya.

Sunnah nabi sudah terangkum dalam kitab suci dan hadits, tergantung kita yang memilah, fokus, dan konsisten saat menjalankan sunahnya. Oleh karenanya, tiada tuntutan untuk mengekang, memberi contoh atau lebih kita kenal dengan uswah al hasanah.

Istilah ini bukan hanya sebagai contoh perilaku yang baik saja, tetapi ada dua poin yang harus benar-benar kita pikir secara mendalam: PERILAKU dan sifat BAIK. Setiap orang memiliki perangai dan perilaku yang berbeda-beda, yang menunjang kualitas diri sebagai manusia purna.


Perilaku nabi terangkum dalam 4 sifat, yakni siddiq, tabligh, amanah dan fathanah. Sifat-sifat itu menunjukkan perilaku baik yang tampak maupun yang berada di samudera terdalam, yaitu hati. Bahwa Tuhan tidak melihat apa yang ada di luar dan fisik manusia, namun melihat terhadap hatinya. Karenanya perilaku nabi terpusat kepada pola sikap dan pola pikir.

Sifat dan sikap yang baik adalah relatif. Namun menjadi sebuah kebaikan mutlak ketika tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Tuhan dalam kitab sucinya memerintah dengan gamblang terkait berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka, uswatun khasanah tidak hanya berkutat dalam lokus benar dan salah, melainkan dalam spektrum kebaikan. Lantas bagaimana seharusnya mengikuti sunah nabi? Pernyataan kocaknya adalah ya kalau mau meniru nabi jangan separuh-separuh. Masak cuma dalam aspek poligami (yang ternyata semua gagal paham atas ini), pakaiannya, jenggotnya. sedangkan aspek terdalam dari sikap nabi yakni cinta dan kasih sayangnya ditinggalkan.

Di saat semua merasa benar sendiri, mulai mencaci sana sini, dan sayangnya saling beradu argumentasi di sosial media, atau di majlis-majlis pribadinya. Di saat semua mulai berburu julukan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Imam Ali, maka tidak ada ruginya jika mencoba menelisik sikap sahabat Abu Dzar al Ghifari.

Dengan demikian nilai yang tersirat dalam sikap uswah al hasanah nabi Muhammad tersalur kepada semua umat. Tidak merasa paling benar, namun berusaha agar selalu menebar kebaikan bagi sesama, hal inilah yang menjadi prinsip dasar dari empat sifat nabi di atas serta uswah al hasanah menjadi wadah dari empat sifat itu.

Pojok Rumah, 2018

Comments

TRENDING:

Stoisisme: Dari Pantheisme Hingga Logika Proposisi

Peta Pemikiran Barat (2): Abad Modern

"Rokoknya Masih Ada" Kata Mahasiswa Tua Pada Yang Muda

Mahasiswa “Zaman Now” dan Kuasa Milenial

Post-Truth dan Masyarakat Epilepsi

Berjabat Tangan Dengan Filsafat

Tak Cukup Katakan “Colorless Green Ideas Sleep Furiously” Pada Chomsky

Dongeng dan Realitas Sosial-Budaya Orang Bajo

LGBT Itu Wangi Lho!

Filsafat dan Naik Sepeda