Pendidikan, Muhajir dan Tentang Pistol

Oleh: Herlianto A
Sumber: smamuh1klaten.sch.id

Ramai-ramai tentang “variasi” pendidikan Indonesia yang digagas oleh kemendikbud, Muhajir Efendi, membuat saya ingin bercerita tentang beberapa hal. Cerita ini akan dimulai dari tentang pistol yang pernah mahaiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kasak-kusukan di warung kopi dan diforum-forum diskusi.

Cerita ini didapatkan langsung dari seorang teman yang mengalami dan sempat diitimidasi. Suatu hari Muhajir ngisi di jurusan Hubungan Internasional (HI) UMM di mana teman saya menjadi salah satu mahasiswa. Muhajir bercerita bahwa dirinya memiliki pistol, sehingga apabila ada mahasiswa yang demonstrasi maka tinggal didoor dari lantai atas rektorat, terkapar, dan selesai.

Teman merasa cerita ini tidak main-main, apalagi Muhajir adalah seorang rektor, sangat mungkin sekali. Akhirnya dalam sebuah forum diceritakan kabar “menakutkan” ini. Dan ternyata beberapa teman mencatat cerita tentang pistol ini dan dituangkan dalam sebuah selebaran lalu dibagi-bagikan ke mahasiswa. Sontak kabar pistol Muhajir tersebar ke seantero kampus, bahkan konon beberapa media ada yang mempublish.

Alhasil, tak lama pula teman tadi dipanggil pihak kampus, diinterogasi dan sempat diintimidasi. Dia diminta untuk mengklarifikasi ceritanya itu dan disuruh segera membuat pernyataan dan permintaan maaf pada Muhajir, jika tidak ancamannya DO. Namun teman tak bergeming dengan ancaman itu, karena baginya apa yang diceritakan sang rektor tidak main-main, karena itu dia juga tidak mau main-main. Seiring berjalannya waktu kabar itu hilang.

Saat bercerita soal ini, tak ada yang menyangka bahwa Muhajir akan ditarik ke senayan menggantikan Anis Baswedan yang namanya sangat moncer dan familiar di kalangan muda saat itu. Tetapi merapatnya PAN ke KIH (Koalisi Indonesia Hebat) dalam hal ini pemerintah, membuka ruang bagi perwakilan Muhammadiyah untuk duduk di kursi menteri. Karena, di sisi lain orang-orang NU banyak sekali yang bercokol di kementerian (Kemendes, Kemenpora, Kemenakertran, Kemenristek, dan Kemenag). Meskipun agak telat, nggak apa-apalah dua kursi buat Muhammadiyah, itupun Amien Rais (yang belakangan disebut-sebut Sengkuni) ngomel-ngomel.

Pada 2016 lalu, pria kelahiran Madiun itu dilantik sebagai mendikbud. Selama kurang lebih setahun menjabat ada banyak terobosan yang “direncanakan”, mulai penghapusan Unas, Full Day School, lima hari sekolah, dan pelajaran agama menjadi di luar kelas. Namun sayang semua gagasan ahli militer itu gatot alias gagal total, lantaran ditolak oleh pemerintah. Ini menjadi rekor tersediri bagi Muhajir ditolak berkali-kali oleh pemerintah. Kalau ditolak cinta sih, masih punya kesempatan minimal 70 kali lagi, kata sebuah buku.

Maaf, demi alasan emansipasi tidak saya sebut judul bukunya, karena banyak trik-trik menaklukkan perempuan yang sangat jitu, takut banyak yang mencari dan mengaplikasikannya. Kasian para perempuan jadi pelampiasan pria-pria hidung hitam tak bertanggung jawab.

Baik, kembali ke Muhajir. Apakah iya, dia harus mencoba hingga 70 kali untuk menanklukkan hati Jokowi dan Jusuf Kalla agar progamnya di-ACC. Rasanya nggak tega juga dan kesannya kurang gentle. Mungkin ada baiknya, andaikan cerita pistol itu benar adanya, dan pistol itu masih ada. Mungkin sesekali moncongnya diarahkan ke Jokowi dan Jusuf Kalla, siapa tahu mereka dapat mengerti perasaan dan kegelisahan dirinya.

Terlepas dari itu semua, dalam pandangan saya kebijakan pendidikan Muhajir kurang ramah bagi masyarakat pulau dan pedalaman. Dia hanya melanjutkan tradisi pendidikan yang Jawa sentris. Sama sekali tidak memikirkan nasib pendidikan pinggiran dan anak-anak pulau yang tidak karu-karuan. Apa dikira setelah Jokowi ngirim baju seragam dan tas ke perbatasan Kalimantan, pendidikan pinggiran sudah beres, saya kira tidak begitu pak jir!

Semua kebijakan pendidikan yang gatot itu sama sekali tak ada kepentingan pendidikan pinggiran. Anak-anak pedalaman dan kepulauan terjauh masih saja belajar seadanya, guru-gurunya apa adanya hingga di usia kemerdekaan yang ke 72 ini. Turut bersyukur, semua kebijakan yang mengada-ada itu ditolak. Saya nggak bisa bayangkan bagaimana jika itu diterapkan bagi anak-anak pedalaman yang sekolahnya saja masih dari gedek, yang gurunya hanya dua ngajari enam kelas. Sebagai anak kepulauan saya mengerti nasib generasi di sana.

Iya kalau SD Muhammadiyah dalam cerita Laskar Pelangi, meskipun gurunya cuma dua dan ngajari semua mata pelajaran masih memberikan prestasi pada siswanya. Itu cerita pak jir! Pelajaran dari kisah itu yang mesti diambil bukan justru membiarkan sekolah seperti SD Muhammadiyah Laskar Pelangi merebak di pedalaman. Justru jangan sampai sekolah berbahan papan itu ada lagi di negeri yang kaya ini. Cukup sekolah dalam cerita itu saja yang reot. Cukup Bu Muslimah yang mengorbankan hidupnya, cukup Pak Harfan yang meregang nyawa dalam kelas. Guru-guru di kepulauan juga ingin hidup bahagia dan sejahtera. Dan selama 72 tahun itu belum terealisasi. 

Saya yakin jika pendidikan diberikan secara merata hingga ke pedalaman dan kepulauan terpencil, pak Muhajir akan memberikan kesempatan untuk lahirnya Ikal yang sesungguhnya, generasi yang lebih cerdas dari Lintang, lebih berbudi dari Sahara, lebih berbakat dari Mahar, lebih baik hati dari A Kiong, lebih pandai bersandiwara dari Syahdan, memiliki leadership seperti Kucai, lebih macho dari Borek, pengabdi orang tua seperti Trapani, bijaksana meskipun mengalami keterbelakangan mental seperti Harun.

Marilah pikirkan pendidikan ini, bukan untuk tujuan agar diri menjadi populer dikenal dan dipuji oleh Jokowi dan Jusuf Kalla. Waktumu masih ada pak jir untuk mengubah wajah pendidikan pedalaman. Otoritasmu masih ada untuk mewujudkan mimpi-mimpi anak-anak yang kini bermata sayu di pedalaman. Untuk yang ini tidak apa-apa kau mencoba hingga 70 kali, karena itu perjuangan yang sesungguhnya. Semoga segara menyadari. Sekian!    


"
"

Post a Comment

2 Comments