![]() |
| Karl Marx dan Adam Smith. Foto/AI |
Mazhabkepanjen.com - Bayangkan seorang buruh berdiri di depan pabrik setelah bekerja delapan jam. Di tangannya ada slip gaji. Kepalanya penuh tanya: kalau perusahaan makin kaya karena kerja saya, mengapa hidup saya tidak otomatis ikut makin sejahtera? Di sinilah Adam Smith dan Karl Marx seperti dua orang yang duduk di warung kopi lalu mulai berdebat tentang satu persoalan besar. Siapa yang menikmati hasil kerja manusia para buruh?
Adam Smith, sang nabi kapitalisme, percaya bahwa manusia mengejar kepentingannya sendiri dapat, melalui pertukaran dan pasar, ikut menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Dalam The Wealth of Nations, ekonom Skotlandia abad ke-18 itu menjelaskan bagaimana pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas secara luar biasa.
Contohnya gampang. Bayangkan seseorang membuat sebuah sepatu sendirian. Ia harus memotong bahan, menjahit, memasang sol, mengecat, sampai mengemasnya. Sekarang pekerjaan tersebut dibagi kepada beberapa orang yang masing-masing mengerjakan satu bagian. Produksi bisa meningkat berkali-kali lipat.
Bagi Smith, kemampuan manusia untuk melakukan spesialisasi dan kemudian bertukar hasil pekerjaannya merupakan salah satu kekuatan besar ekonomi pasar. Namun, ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan mengatakan bahwa produksi meningkat: Jika produksi meningkat, siapa yang mendapatkan tambahan hasilnya?
Di sinilah kritik Marxisme menjadi tajam. Karl Marx tidak menyangkal bahwa kapitalisme mampu mengembangkan kekuatan produksi. Marx melihat kapitalisme sebagai sistem yang sangat dinamis dalam mengembangkan teknologi, industri, perdagangan, dan produktivitas. Masalahnya terletak pada hubungan kepemilikan.
Dalam ekonomi kapitalis, alat-alat produksi—seperti pabrik, mesin, tanah, teknologi, dan modal—pada umumnya dimiliki oleh pihak tertentu. Sementara itu, orang yang tidak memiliki alat produksi harus menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan upah.Dengan kata sederhana: satu pihak memiliki modal, pihak lain memiliki tenaga untuk bekerja. Hubungan ini tidak selalu berarti konflik terbuka. Pengusaha membutuhkan pekerja, sementara pekerja membutuhkan pekerjaan. Keduanya saling bergantung. Tetapi kepentingan mereka tidak selalu sama.
Pengusaha memiliki kepentingan untuk meningkatkan produktivitas dan memperoleh keuntungan. Pekerja memiliki kepentingan untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi, jam kerja yang masuk akal, serta kondisi kerja yang aman.
Di sinilah Marxisme mengajukan pertanyaan yang sering terasa mengganggu: mengapa orang yang menghasilkan barang tidak otomatis menjadi pemilik hasil produksinya.
Konsep tersebut berkaitan dengan gagasan Marx mengenai nilai lebih. Secara sederhana, Marx melihat bahwa pekerja menghasilkan nilai melalui proses kerja, sementara sebagian hasil dari proses tersebut menjadi keuntungan bagi pemilik modal setelah berbagai biaya diperhitungkan.
Bagi Marx, persoalannya bukan sekadar berapa besar gaji seorang pekerja. Persoalan yang lebih mendasar adalah siapa yang menguasai proses produksi dan siapa yang memiliki hasil akhirnya.
Smith melihat persoalan ekonomi dari sisi yang berbeda. Ia menaruh perhatian besar pada bagaimana kepentingan individu dapat berinteraksi melalui pasar. Seorang pedagang menjual barang karena ingin memperoleh keuntungan. Konsumen membeli karena membutuhkan barang tersebut. Produsen memproduksi karena melihat adanya permintaan.
Tidak ada satu orang yang harus mengatur seluruh proses. Inilah yang kemudian terkenal melalui gagasan “tangan tak terlihat”. Dalam kondisi tertentu, kepentingan pribadi yang berinteraksi melalui pasar dapat menghasilkan koordinasi ekonomi yang lebih luas.
Tetapi penting untuk tidak mengubah Smith menjadi karikatur seorang pemikir yang hanya berkata, “Biarkan pasar melakukan semuanya.” Smith juga membahas persoalan moralitas, pendidikan, institusi, monopoli, serta kemungkinan munculnya perilaku ekonomi yang merugikan masyarakat. Dengan kata lain, pasar tidak berdiri di ruang kosong. Pasar membutuhkan aturan, institusi, dan kondisi sosial tertentu agar dapat berfungsi.
Di titik ini, perdebatan antara Smith dan Marxisme menjadi jauh lebih menarik. Smith membantu kita memahami bagaimana kekayaan dapat diciptakan. Pembagian kerja, spesialisasi, perdagangan, kompetisi, dan insentif dapat meningkatkan produktivitas. Marxisme memaksa kita melihat pertanyaan berikutnya: setelah kekayaan itu tercipta, siapa yang menguasai dan menikmatinya?
Keduanya dengan demikian tidak sekadar berbeda pendapat tentang ekonomi. Mereka memberikan fokus berbeda terhadap masalah yang sama.
Bayangkan sebuah perusahaan teknologi berhasil meningkatkan produktivitas dengan menggunakan kecerdasan buatan. Produksi meningkat, biaya turun, dan keuntungan melonjak. Perspektif Smithian mungkin akan membuat kita bertanya bagaimana inovasi dan produktivitas tersebut menciptakan nilai ekonomi baru.
Perspektif Marxis akan menambahkan pertanyaan lain: siapa yang memiliki teknologi tersebut, siapa yang kehilangan pekerjaan, siapa yang memperoleh keuntungan terbesar, dan bagaimana hasil peningkatan produktivitas dibagikan?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan dalam ekonomi modern. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana memilih “pasar” atau “anti-pasar”. Berbagai negara menggunakan kombinasi mekanisme pasar, regulasi pemerintah, program kesejahteraan, serikat pekerja, dan kepemilikan publik dalam kadar yang berbeda-beda.
Karena itu, perdebatan Smith dan Marxisme sebaiknya tidak diperlakukan seperti pertandingan sepak bola yang harus menentukan siapa pemenangnya. Yang lebih penting adalah memahami pertanyaan yang mereka wariskan.
Smith mengajarkan kita untuk bertanya bagaimana masyarakat menciptakan kekayaan. Marx mengajarkan kita untuk bertanya siapa yang menguasai kekayaan tersebut. Dan mungkin pertanyaan paling mengganggu justru berada di antara keduanya: Jika sebuah masyarakat berhasil menjadi sangat kaya, tetapi sebagian orang yang bekerja di dalamnya tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, apakah masalahnya terletak pada cara kekayaan itu diciptakan, cara kekayaan itu dibagikan, atau keduanya?
Pertanyaan tersebut membuat perdebatan antara Adam Smith dan Marxisme tetap hidup. Sebab selama manusia masih bekerja, perusahaan masih mencari keuntungan, teknologi masih mengubah pekerjaan, dan kekayaan masih diperebutkan, pertanyaan tentang produksi, kepemilikan, upah, dan distribusi tidak akan pernah benar-benar selesai.

0 Komentar