Lapak Para “Ulama”, Agama Didiskon 60 Persen

Oleh: Herlianto A
Sumber: maknawi.com

Gelagat “ulama” paling nyata saat ini adalah berupaya menunjukkan diri sebagai yang paling Islam. Mereka menunjukkan serangkaian bukti, baik pembuktian argumentatif-rasional, berdasar fakta-fakta (empiris), ataupun lewat nash-nash tertentu yang dicocokkan.

Sebetulnya tak ada yang salah dengan upaya pembuktian, memang begitu seharusnya Islam dalam bingkai pengetahuan. Motivasi “ber-Islam” memang haruslah motivasi “menjadi Islam” bukan yang lain. Di sini barangkali level-level ke-Islaman hadir sebagai konsekuensinya, dan level itu ditentukan oleh seberapa kokoh kekuatan proses pembuktiannya.

Namun persoalannya, tujuan menjadi Islam menjadidi meleleh begitu upaya menunjukkan diri sebagai yang paling Islam hanyalah sebatas dalam rangka pertarungan kekuasaan. Artinya, tidak sungguh-sungguh mencari dan menjadi Islam tetapi sekedar membuat citra—citra baik bagi dirinya, dan citra buruk bagi lawan politik. Setelah nafsu politik tercapai maka mengerang klimaks dan selesai, lalu mendengkur di atas bantal.


Kita dapat melihat banyak contoh kasus betapa wacana agama untuk fore play. Peristiwa bencana akan diagamaisasi menjadi azab jika menimpa lawan politik, dan disebut cobaan jika mengenai dirinya. Bagi yang memilih berbeda pilihan politik disebut sudah keluar dari hidayah Allah, bahkan yang paling ngeri ada Partai Allah (PA) dan Partai Setan (PS). Dan beberapa orang dipihaknya diidentikkan dengan Khulafaur Rasyidin agar pernyataannya menjadi fatwa dan mendulang massa. Menggelikan hingga ke selangkangan memang, tapi ini ada.

Kunjungan-kunjungan ke pesantren kian rutin dan intensif. Sarung dipakai saat kunjungan, tanpa mengerti manfaat sarung: bisa dibuat tidur, ibadah, serta memudahkan saat “nganu”. Ngeres tenan! Tiba-tiba halaman istana menjadi tempat istigosah bersama “ulama”, walaupun puluhan tahun sebelumnya pernah ada. Deklarasi kiai muda sebagai kekuatan suatu kubu tertentu, hingga ada yang mengkritik tak punya tampang kiai. Baru kali ini kiai diukur dari tampangnya. HTI dibubarkan, (nah kalau ini sudah benar nggak usah diubah lagi). Namun Pembubaran ini juga bagian dari upaya menunjukkan ke-Islaman tadi.

Baca Juga:


Dari sekian akrobat berbau agamis ini yang dihasilkan tak lain adalah sebatas mengarahkan mata dan kepala publik pada pilihan politik tertentu, dan bukan pada keber-Islaman yang dicari. Seperti kita masuk pasar, lalu dari dari belakang ada yang bilang “salak-salak manis dan murah,”.

Publik (muslim) dijadikan konsumen dengan dihujani oleh narasi agama bernuansa iklan dan promosi. Celakanya, keber-Islaman kita masih sebatas keyakinan pada judul berita online. Di mana tanpa peduli isi berita, yang penting judulnya cocok dengan kebutuhannya maka screen shot dan share, setelah itu hujat-hujatan di kolom komentar. Ini kemudian disebut dakwah demi kebenaran. Beginilah kehidupan pasar dan konsumen Islam Indonesia saat ini.

Lalu siapa penjual agamanya? Dialah para “ulama”. Kata ulama yang saya maksud bukanlah ulama yang sesungguhnya tetapi ulama jadi-jadian yang memang dibikin dengan dibungkus kain putih hanya kepentingan sesaat. Maka itu setiap memaksudkan ulama jadi-jadian pakai tanda petik. Jadi saya tegaskan lagi, ulama yang dimaksud adalah yang baru dua hari pakai sorban sudah disebut ulama dan turut berjualan, cirinya dikit-dikit teriak “take a bear”, dikit-dikit menista agama, dikit-dikit ireksi lalu pipis.

Di tangan ulama yang demikian itu “Islam” betul-betul digelar di lapak-lapak baik online maupun offline. Bahkan bisa juga pesan antar ke rumah, pembeli tinggal menikmati. Tak berhenti di situ, mereka juga mendiskonnya hingga 60 persen. Untung sedikit nggak apa-apa yang penting cepat sold out, agar bisa kulakan lagi. Serta menawarkan berbagai jenis promo dan model-model terbaru, tak segan memberi voucher umroh, gratis kaplingan di surga, dengan dua bidadari syantik di dalamnya.

Dengan cara ini konsumen agama tak sempat berpikir untuk apa membeli agama dalam narasi ulama tersebut. Apakah itu dibutuhkan atau tidak, apakah barang jualannya orisinil atau KW 9 lantaran ada muatan politik di dalamnya. Konsumen agama hanya berpikir ini sedang harga promo dan didiskon 60 persen, kapan lagi ada diskon sebesar ini. Ditambah voucher dan hadiah lainnya yang menggairahkan. Udahlah yang penting beli dulu, soal keaslian barang nanti saja dipikirnya. Beginilah transaksi agama itu terjadi. Dan transaksi ini yang terus bikin gaduh.

Nah, setelah “para ulama” itu dapat konsumen setia—dan diberi nama ikatan konsumen tertentu—berarti dia sudah punya pasar. Kekuatan pasar ini dijual lagi oleh si “ulama” kepada agen-agen besar lainnya lagi, yang memang membutuhkan suara konsumen. Larisnya lapak-lapak ulama ini tak lepas dari politik elektoral yang terus menghantui kita dalam berdemokrasi. Selamat menikmati menu-menu “ulama” bagi yang sudah kadung tergila-gila.   

Comments

TRENDING:

"Rokoknya Masih Ada" Kata Mahasiswa Tua Pada Yang Muda

Peta Pemikiran Barat (2): Abad Modern

LGBT Itu Wangi Lho!

Berjabat Tangan Dengan Filsafat

Stoisisme: Dari Pantheisme Hingga Logika Proposisi

Tak Cukup Katakan “Colorless Green Ideas Sleep Furiously” Pada Chomsky

Dongeng dan Realitas Sosial-Budaya Orang Bajo

Mahasiswa “Zaman Now” dan Kuasa Milenial

Sosialisme Marx: Dari Utopis Ke Ilmiah

VIEWER