Peta Filsafat Barat (3): Abad Kontemporer

Oleh: Herlianto A
                  
Sumber: berkuliah.com
Fenomenologi

Fenomenologi berbicara tentang esensi dibalik penampakan. Istilah fenomenologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, Phainomenon (menampakkan diri) dan Logos (akal budi). Ilmu tentang penampakan berarti ilmu tentang apa yang menampakkan diri ke pengalaman subjek. Setiap aktivitas kesadaran harus merujuk pada satu yang hadir. Doktrin intensionalitasnya adalah Noesis (tindak kesadaran) selalu men-syarakat noema (yang disadari). Franz Brentano, psikolog, bisa disebut penebar benih fenomenologi tetapi dalam bentuknya yang masih psikologis.

Melalui Edmund Husserl (Austria, 1859-1938) fenomenologi menemukan dasar-dasarnya. Baginya Fenomenologi adalah ilmu tanpa presuposisi, ini sejalan dengan ajaran Hegelian. Ada dua presuposisi yang menghantui filfasat selama ini: Naturalisme dan Psikologisme. Naturalisme adalah asumsi bahwa objek-objek berdiri terlepas dari subjek pengetahuan. Sedangkan psikologisme adalah mode yang berkembang yang mereduksi kodrat entitas sebagai semata psikologis dalam benak manusia. Kedua presuposisi ini menafikkan kodrat keberarahan kesadaran. Sementara fenomenologi berfokus sepenuhnya pada pengalaman murni tanpa asumsi. Husserl merumuskan konsepnya yang masyur: evidenz yaitu sesuatu yang hadir langsung niscaya dan absolute sehingga tak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Dengan demikian fenomenologi bukan sesuatu yang faktual melainkan korelat kesadaran sebagai sesuatu yang imanen dalam kesadaran. fenomenologi ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari objek-objek sebagai korelat dari kesadaran[1].

Untuk sampai kepada esensi tersebut tanpa terkontaminasi oleh presuposisi, Husserl mengajukan metode epoche, yaitu penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi, tanpa itu kita akan masuk pada dikotomi subjek- objek. Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita terhadap dunia pada sikap keseharian yang menghayati dan bukan memikirkan benda-benda, misalnya saat mengambil gelas kita tak perlu memikirkan lebar, berat, dan tinggi gelas melainkan menghayati sebagai wadah penampung air. Jadi, dunia kehidupan adalah dunia kehidupan sehari-hari sebelum ditafsirkan oleh pendekatan-pendekatan ilmiah akademis. Dunia semacam ini semakin raib dalam timbunan ilmiah.Semboyan Husserl kembalilah ke hal-hal itu sendiri.

Martin Heidegger (Jerman, 1889-1976) memakai fenomenologi untuk merenungkan ada, yaitu bagaimana mendekati Ada sebagai fenomen? Baginya kita harus membiarkan Ada menampakkan diri pada dirinya sendiri. Misalnya dengan membayangkan segala sesuatu itu Ada dan bukan tidak Ada. Heidegger meradikalkan intensionalitas Husserl, manusia tidak hanya menyadari sesuatu melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran. Husserl cenderung epistemologis sementara Heidegger ontologis. Pada titik ini Heidegger mengkritik Cogito ergosum Descartes, bahwa ia lupa akan Adanya. Pikiran bukan segala-galanya karena sebelum berpikir, pikiran harus ada terlebih dahulu[2]. Heidegger, dalam Time and Being, mengatakan sejauh ini manusia terlanjur taken for granted sehingga lupa akan Ada. Untuk meneliti Ada, Heidegger memulai dari siapa yang mempersoalkan Ada itu sendiri, yaitu manusia. Tetapi dia menyebutnya Dasein (Ada disana) pilihan ini karena “manusia” sudah penuh dengan presuposisi. Agar tampak netral maka dipilih istilah Dasein. Dan karena Dasein mempertanyakan ke-Ada-annya sendiri (eksistensi), membuat Heidegger juga digolongkan sebagai filsuf eksistensialis.

Mazhab Frankfurt

Lahir dari sekolah Frankfurt, sebuah nama yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut penelitian sosial di Frankfurt Jerman dan pemikir-pemikir lainnya  yang dipengaruhi oleh mereka.  Yang dimulai tahun 1930, ketika Max Horkheimer diangkat sebagai direktur lembaga sosial riset tersebut. Mazhab ini lahir sebagai sikap ketidakpuasan mereka terhadap Marxisme yang semakin sempit maknanya akibat kerangka positivisme ilmiah yang berkembang.

Max Horkheimer (Jerman, 1895-1973) tokoh awal mazhab ini. Dia mengkritisi kerangka positivisme sejak Descartes hingga A.Comte, bahkan dianggap sebagai mitos baru. Artinya masyarakat Eropa kala itu juga terjebak pada tahayul modern, yaitu tradisi ilmiah dan logis. Dan sadisnya mitos ini ini juga melakukan penindasan. Dia mengkritik dalam Teori Tradisional dan Kritis, bahwa teori tradisional (positivisme) yang senjata utamanya rasionalitas hanya menjelaskan kenyataan tapi tak ada kekuatan mengubah keadaan, bahkan afirmatif. Horkheimer menawarkan teori kritis yang menemukan realitas sosial diproduksi oleh manusia, karenanya sadar bahwa tindakan manusia juga dapt mengubahnya. Sehingga teori kritis menjadi praktis, yaitu praktis pembebasan.[3] Kritik Horkheimer atas modernitas berlanjat dalam Dialektika Pencerahan, dia menegaskan bahwa proyek pencerahan berpotensi mencampok kemanusiaan pada penindasan. Kritik menarik lainnya, adalah soal industri budaya, bahwa budaya dijadikan komuditas untuk meraup laba sebanyak mungkin. Sehingga budaya tak lagi memiliki nilai sebagai adanya.

Theodor W Adorno (Jerman, 1903-1969) menyumbang sub-sub pembahasan dalam Dialektika Pencerahan. Selain itu, dia juga menulis Minima Moralia. Melalui buku yang ditulis dengan Horkeimer itu, ia menilai ilmu modern juga bersifat positif. Dia ingin keluar dari kerangka ini, bahwa kebenaran filosofis bukanlah kebenaran ilmiah. Filsafat harus menjauh dari kebenaran mutlak ilmiah. Adorna juga mengorek soal esensi dan penampakan. Diaman menurutnya, masyarakat modern berkubang pada penampakan yang palsu yang dikontruksi oleh kapitalis demi kepentingan modalnya. Komuditas menyembunyikan sifatnya yang menghasilkan ilusi, mereka dipakai untuk merangsang kesadaran yang dipalsukan[4]

Kerangka identifikasi sebagaimana dipraktekkan modernitas justru itu suatu kebohongan, Kerena menghilangkan keunikan, kekahasan dan kelainan dari sesuatu. Dengan kata lain yang identik adalah tidak benar. Dialektika adalah kesadaran konsekuen tentang nir-identitas. Karena dia menegasi dialektika macam itu. Teori ini oleh pembacanya disebut filsafat identitas. Lantas filsafat hanya menjadi benar apabila menyuarakan apa yang pada umumnya diabaikan, penderitaan. Yaitu kekuatan untuk mendorong agar penderitaan bangkit dan bicara.

Herbert Marcuse (Jerman, 1898-1979) mengkritik dunia modern dengan sebutan One Dimensional Man (manusia satu dimensi). Bahwa manusia berada hanya untuk bekerja menghasilkan komoditas untuk para industri modern. Karenanya mereka menjadi tidak berhak atas kebahagiannya sendiri. Manusia bekerja berdasarkan rasionalitas teknologis yang sudah dikondisikan, dan dianggap berguna sepanjang dapat dikuasai, dimanipulasi, dan diperalat. Masyarakat modern merupakan, sekumpulan manusia yang sudah dimanipulasi secara rasioanlitas teknologis. Sesuatu seakan-seakan sebagai kebutuhannya padahal itu bukan. Kebutuhan manusia sebenarnya adalah agar ia dapat menentukan diri sendiri dan membangun hubungan antar manusia yang tidak terasing. Marcuse dalam Cinta dan Peradaban mengkritik Sigmund Freud yang berlebihan melihat sexualitas sebagai segala-segalanya. Justru dengan membatasi sexulitas, manusia memiliki waktu dan ruang untuk menjamin kebutuhannya. Dengan kata lain pengekangan sexualitas menjadi asal-usul peradaban manusia. 

Jurgen Habermas (Jerman, 1929-2007) adalah generasi kesekian mazhab Frankfurt. Dia merumuskan ‘Tindakan Komunikasi’ sebagai alternatif baru untuk menyelesaikan kemacetan teori kritis. Modernitas akan menjadi proyek pencerahan apabila terjadi komunikasi yang sejati, komunikasi yang didasari oleh rasionalitas komunikasi, yaitu yang bebas dari dominasi dan berlangsung secara adil dan terbuka. Komunikasi ideal dapat berlangsung di ranah publik, dimana tidak ada ketimpangan kuasa antara orang yang terlibat dalam pembicaraan. [5] Dengan demikian Habermas menilai komunikasi (berbicara) adalah suatu tindakan. Gagasannya yang lain adalah soal ruang publik (public spare), ruang ini untuk menjembatani keprihatinan individu menuju keprihatinan masyarakat tentang berbagai tuntutan dari kehidupan sosial. Belakangan ruang publik sering diterjemahkan menjadi LSM dan NGO lainnya. Karena disitu masyarakat berkumpul dan merumuskan persoalan bersama (kepublikan).

Posmodernisme

Istilah postmodernism belum memiliki pemankaan yang utuh. Setidaknya ada dua definisi yang cukup bertentangan. Pertama, menilai sebagai lawan terhadap modernisme, berarti mengamputasi proyek-proyek modern. Kedua, mengagnggap kelanjutan daripada modernisme. Mana yang paling betul? Mungkin ada baiknya kita mengkaji tokohnya terlebih dahulu baru kemudianmemberikan penilaian. 

Jean Francois Lyotard (Prancis,1924-1998 ) dianggap tokohnya peretanya posmodernisme.  Dia dikenal luas setelah menulis The Postmodern Condition (1979), sebuah telaah tentang status pengetahuan dalam kebudayaan pada akhir abad ke-20, yang memaklumatkan surutnya “narasi-narasi besar” yang menindas yakni, ideologi-ideologi–dan lahirnya paradigma kultural baru yang didasarkan pada skeptisisme terhadap teori- teori penjelasan universal pada umumnya. Sebaliknya, menurut Lyotard, kini kemanusiaan justru berpeluang mengangkat beraneka ragam “narasi- narasi kecil”, mengembalikan kekuasaan politik pada individu, dan merongrong basis kekuasaan negara otoritarian (dan bagi pemikir posmodernis, negara pada umumnya memang berwatak otoritarian).[6]

Dengan demikian masyarakat sebagai satu kesatuan atau sebagai keseluruhan organik (Durkheim), sebagai sistem fungsional (Parson), maupun sebagai kesatuan yang tersusun atas dua kekuatan yang bertentangan (Marx) tidak bisa lagi dipercaya kaitannya dengan pengetahuan dan keyakinan. Penelitian sejarah bukan melalui metanrasi melainkan melaui catatan-catatan pribadi manusia. 

Jaques Derrida (Aljazair, 1930-2007) sering disebut sebagai salah satu tokoh yang melengkapi posmodernisme. Salah satu gagasan menarik tokoh ini adalah penolakannya terhadap segala bentuk determinisme yang diyakini membentuk sejarah. Misalnya, determinisme ekonomi (Marx), determinisme politik (Gramsci). Determinisme macam ini akan menjadikan dunia sebatas oposisi biner. Kursi pasti hanya untuk diduki atau lawan putih pasti hitam. Padahal kuris juga bisa dibuat tidur, dan biru juga lawan dari putih. Artinya tidak ada alasan atau pembuktian kenapa kursi hanya untuk di duduki, dan lawan putih hanya hitam. Pada titik ini Derrida melakukan dekontruksi teoritis.

Derrida juga melihat realitas sebagai rimba bahasa yangt terus dinamis bahkan tak bersimpul, kehidupan tak lain sebagai petanda (signifier) dan penanda (signified). Yang mana relasi keduanya terus mengalami dinamika, sehingga tidak ada tafsir yang utuh atas realitas tertentu. Yang ada hanya jejak-jejak penafsiran atas realitas. Realitas selalu mengalami pembedaan dan penundaan (differance: gabungan dari to differ = berbeda dan to defer = tertunda) Realitas, agama, budaya, dan tradisi tak lain sebatas teks yang terus ditafsiri oleh masing-masing kepala.[7]  



[1] Doni Gahral Adian. Pengantar Fenomenologi. Jakarta: Koekoesan. 2010., hal 14-15
[2] F Budi Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG. 2003.,hal 28-30
[3] Franz Magnis Suseno. Dari Mao ke Marcuse: Filsafat Marxis Pasca Lenin. Jakarta: Gramedia. 2013., hal 209
[4] John Lechte. 50 Filsuf Kontemporer: Strukturalisme-Posmodernisme. Jogjakarta: Pustaka Filsafat.2005., hal 271
[5] Abdus Salam. Pengantar Sosiologi. Malang: Dreamlitera. 2015., hal 134
[6] Stuarsim. Lyotard dan Nirmanusia. Jogjakarta: Jendela. 2003,. Hal 2-3
[7] Baca selengkapnya. Muhammad Al Fayyadl. Derrida. Jogjakarta: LKiS.

Posting Komentar

0 Komentar