Plato dan Aristoteles: Hylemorfisme sebagai Kritik terhadap Ke-adiduniawian Alam Ide


Oleh: Herlianto A, santri STF Al Farabi Malang
Sumber: ilimvemedeniyet.net

  1. Plato
Biografi
  • Lahir di Aegina dekat Athena pada 428 SM.
  • Ayahnya bernama Ariston bangsawan keturunan Kodrus di Athena. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon. Ayahnya seorang duta besar di Persia. Sejak kecil Plato sudah terbiasa dengan nuansa kekuasaan dan bermasyarakat.
  • Belajar pada Sokrates pada usia 20 tahun.
  • Mendirikan Akademia pada 385 SM. Disitu ia berfilsafat selama kurang lebih 40 tahun.
  • Meninggal di Akademia pada 347 SM.
  • Pada tahun 529 Masehi, Akademia ditutup oleh kekaisaran Romawi tepatnya pada masa kaisar Yustinianus ke I karena dianggap membahayakan perkembangan agama Nasrani.
Epistemologi
  • Menurt Plato, cara paling baik memperoleh pengetahuan adalah dengan berdialog. Itulah sebabnya Plato menulis karangannya dengan format tanya-jawab.
  • Melalui dialog dapat menjelaskan pengertian eidos (alam ide) dengan lebih benar dan bijaksana. Prosesnya bisa melalui analitika yaitu menguraikan, sintetika (memadukan), atau hipotetika (praduga). Maka disitu sebenarnya proses dialektis.
  • Noesis atau akal satu-satu alat yang dapat mengenali eidos. Alam ide yang dicapai rasio tidak di bangun dalam kerangka pikir melainkan hanya diterawang dari ingatan manusia yang disebut anamnesis atau recollection. Ibaratnya ssetelah kita membaca tetapi setelah itu tidak ingat lagi. Tetapi pada saat ada orang yang mengulang bacaan itu, maka dengan seketika kita mengingatnya.
Metafisika dan Teori Ide
  • Metafisika Plato merupakan penyangkalan terhadap kenyataan material. Gagasan ini dikenal dengan teori bentuk yaitu teori yang menyatakan bahwa forma abstrak non-material-lah yang merupakan realitas tertinggi dan paling mendasar. Dan bukan dunia material yang berubah-ubah yang ditangkap lewat sensasi indra.
  • Forma (nirfisik) bersifat a-spasial dan a-temporal yaitu tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu juga tidak berdimensi ruang dan waktu. Melainkan menjadi alas dari ruang dan waktu. Dengan demikian menentukan awal, keberlangsungan, dan akhir.
  • Forma tidak bersemayam dalam akal atau pikiran sebagaima “ide” yang dipahami selama ini. Ia bersifat ekstramental, immaterial, abadi (eternal), tak berubah, dan tak bergantung pada dunia empiri. Misalnya forma kecantikan tidak terdapat pada mahluk di bumi. Tidak terdapat pada Julia Peres ataupun Dewi Persik. Tetapi ia berada pada dirinya sendiri.
  • Teori forma kemudian disebut alam ide. Gagasan Plato itu bertautan dengan beberapa filsuf Yunani sebelumnya diantaranya yang cukup kental: Herakletos (535 SM), Parminides (450 SM), dan Kaum Sofis (450 SM). Herakleitos mengatakan segala sesuatu di semesta ini adalah keberagaman dan perubahan (panta rei). Parminides menyangkal gagasan Herakleitos. Baginya semesta ini adalah kesatuan utuh yang tak bergerak dan tunggal. Sementara Sofis menentang adanya kebenaran hakiki, baginya tak ada kebenaran yang ada hanyalah retorika dan seni berdebat. Pengetahuan akan kebenaran adalah kemustahilan, keraguan, dan ketidak-tahuan ketentuan pasti manusia.
  • Dari gagasan-gagasan itu Plato mencari jalan keluar dengan merumuskan eidos atau alam ide yang maha sempurna. Alam adi dunia ini tunggal dan tak kurang satu apapun (Parminidesian). Sementara dunia beragam yang kita singgahi ini adalah tiruan dari alam ide sendiri (Hirakleitosian).
  • Untuk menjelaskan alam ide, Plato menganalogikan dengan sekelompok orang yang sejak lahir hidup di dalam goa. Sehingga orang ini menganggap bayangan yang ada dalam goa sebagai yang riil. Dia tidak bisa menggapai “ada” yang ada di luar goa yang menjadi realitas sesungguhnya.
Bentuk Negara
  • Lahirnya negara bukan karena manusia berkehendak melainkan karena manusia lemah dan menunut hidup secara kolektif.
  • Dengan negara dapat melakukan pembagian kerja. Sehingga membutuhkan penggolongan masyarakat yaitu penguasa, militer (menjaga keamanan), dan kaum professional seperti petani, nelayan, pejual bakso (menyiapkan kebutuhan).
  • Negara mengalami siklus konstitusional yang dimulai dari sistem:
  1. Aristokrasi: negara dipimpin oleh orang-orang pintar atau orang terbaik
  2. Timokrasi: kekuasaan berdasarkan kehormatan yang ditentukan oleh kekayaan
  3. Oligarki: kekuasaan oleh segelintir orang kaya.
  4. Tirani: dipimpin oleh otoriter
  • Negara harus diatur oleh hukum yang disebut nomokrasi atau the rule of law.
Soal Jiwa
  • Manusia dapat melakukan sesuatu menurut Plato karena di gerakkan oleh jiwa secara otomatis (autokineton). Dia membagi jiwa menjadi tiga yaitu thumos, epithumia, dan logistikon.
  • Thumos adalah merujuk pada segala bentuk afektifitas, rasa, semangat, dan agresifitas atau daya positif. Epitumia nafsu rendah yang membawa manusia pada keburukan yang letaknya dari perut ke bawah. Logistikon merupakan rasio yang mengontrol keduanya.
  • Bagi Plato manusia bergerak untuk menuju pada kebenaran yang ultimate. Proses ini disebut dengan arête atau keutamaan.
  •  
     
  1. Aristoteles
Biografi
  • Lahir di Stageira kawasan Yunani utara pada 384 SM.
  • Ayahnya Nichomacos seorang dokter Amyntas II raja Macedonia, ibunya bernama Phaetis.
  • Pada usia 18 tahun ayahnya meninggal. Ia pergi ke Athena dan berguru pada Plato yang sudah berusi 60 tahun. Dia belajar selam 20 tahun.
  • Pada tahun 374 ia diundang mengajar Alexandros III, cucu dari Amyntas III. Kelak muridnya ini dikenal dengan sebutan Iskandar Zulkarnain.
  • Pada usia 50 tahun Aristoteles mendirikan Lyceum, tempat belajar para filsuf. Muridnya diantaranya Theoprastos dan Neleus
  • Meninggal pada usia 63 tahun 322 SM
Logika
  • Ada dua organon (alat pengetahuan) yaitu analitika yang disebut logika untuk memeriksa argumentasi yang bertumpu pada keputusan-keputusan yang benar. Dan dialektika yang bertujuan menelusuri argumentasi yang bertolak dari hipotesis.
  • Logika bertumpu pada tiga fondasi yaitu kategoria, identitas, dan silogisme.
  1. Kategoria ada sepuluh 1) substansi: Jokowidodo, 2) kualitas: presiden Indonesia, 3) kuantitas; tingginya 170 cm, 4) relasi: kader PDIP, 5) tempat spasial: di Monas, 6) waktu: pagi hari, 7) sikap: berpidato, 8) keadaan: menggunakan baju kotak-kotak, 9) fungsi/kerja: memimpin Indonesia, 10) pelengkap/objek/pasif: dipuji banyak orang.
  2. Identitas adalah menyangkut prinsip non kontradiksi. Yaitu Jokwidodo dan bukan Prabowo. Tidak bisa Jokowidodo sekaligus Prabowo.
  3. Silogisme atau penyimpulan berkunci. Contoh:
Premis mayor: semua orang adalah mortal
Premis mayor: SBY adalah manusia
Kesimpulan : SBY akan mati

Epistemologi
  • Epistemologi Aristoteles berangkat dari rasio yang ia sebut sebagai intelek aktif.
  • Rasio memiliki dua fungsi yaitu menerima esensi sehingga bersifat pasif dan menampilkan esensi yang diterima itu sehingga akal bersifat aktif.
Metafisika
  • Berasal dari kata ta meta ta physica yang berarti yang datang setelah fisika. Aristoteles menyebut prote philosophia (filsafat pertama).
  • Ada tiga makna metafisika menurut Aristoteles dalam buku Metaphysica
  1. Ilmu yang mencari prinsip fundamental dan penyebab pertama
  2. Ilmu yang mempelajari ada sebagai yang ada (being qua being)
  3. Ilmu dengan objek paling luhur yang menjadi dasar bagi semua adaan
  • Posisi metafisika dalam kerangka ilmu Aristoteles
Ilmu di bagi tiga yaitu: Pertama tentang pengetahuan (theorein) meliputi metafisika, fisika, dan matematika. Kedua tentang tindakan (prattein) meliputi etika dan politik. Ketiga tentang produksi (poiein) meliputi poetika dan retorika

Kritik Terhadap Plato
  1. Aristoteles menjembatani dualisme pemikiran Plato (Ide/eidos dan objek nyata/mimesis). Dia berangkat dari pemahamannya terhadap hakikat sesuatu yang terdiri dari materi (hyle) dan bentuk (morphe). Menurut Aristoteles materi dan bentuk itu tampil bersamaan dalam proses menjadi yang disebut entelecheia. Dan bukan terpisah seperti pandangan Plato melainkan saling mengandaikan. Ajaran ini disebut hylemorfisme. Materi tanpa bentuk bukanlah apa-apa. Sebaliknya bentuk tanpa materi juga tidak mungkin.
  2. Dalam materi terdapat potensi (potensia) yang dapat menjadi aktual (aktus/ousia) melalui forma (bentuk).
  3. Potensi menjadi aktual atau proses entelecheia dimungkinkan oleh empat penyebab yaitu: causa material (misalnya kayu), causa forma (dibuat kursi), causa efficiens (pengukir yang mengubah kayu jadi kursi), dan causa final (tujuan dibuat kursi).
  • Dengan demikian substansi atau ousia adalah sesuatu hal yang berada dalam dirinya sendiri dan tidak bisa dikenakan pada sesuatu yang lain. Maka harus dibedakan dengan aksiden yaitu apabila substansi mengada dengan cara berlainan.
  • Forma yang paling sempurna terdapat pada hal ketuhanan. Hal inilah yang dia yakini sebagai penggerak pertama yang tidak bergerak (prima causa).
Politik dan Etika
  • Soal politik berkaitan dengan tindakan etis suatu masyarakat. Hadirnya negara mestinya dalam rangka untuk mencapai kebaikan tertinggi sebagai tujuan hidup manusia. Dan tak ada kebaikan tertinggi yang dapat dicapai manusia tanpa melalui negara. Ia kemudian tersohor dengan petuahnya bahwa manusia adalah zoon politicon.
  • Hidup yang baik adalah yang memiliki tujuan. Tujuan yang membedakan antara tindakan manusia dengan tindakan hewan.
  • Politik bukan semata-mata soal kekuasaan sebagaimana dikatakan Nicollo Machiavelli (Italia, 1469-1527). Etika adalah basis kategoris (mewajibkan) bagi politik.
  • Pola pemerintahannya berpaku pada polis atau negara kota (city state) yang diyakini sebagai cikal bakal sistem demokrasi. Pencapaian realisasi hakikat manusia yaitu eudaimonia (kebahagiaan) tidak serta merta diperantarai oleh polis tetapi ada substruktur yang mengawali polis. Yaitu mulai dari individual (kelahiran), keluarga (oikonomia), paguyuban (koinonia), negara kota (polis).
  • Ditingkat koinonia masyarakat berupaya untuk mencapai kecukupan dalam kebersamaan. Untuk itu harus diatur melalui hukum.
  • Bentuk-bentuk hukum yaitu hukum alam (hukum material) dan hukum positif (hukum forma) yang dibuat oleh kesepakatan manusia.

Referensi:

Adian, Donny Gahral. Senjakala Metafisika Barat. Jakarta: Koekoesan.2012
Wibowo, A Setyo. Arete: Hidup Sukses Menurut Platon. Jogjakarta: Kanisus.2010
Bertens, Kees. Ringkasan Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Kanisus.1975.
Suseno, Franz Magnis. Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles. Jogjakarta: Kanisius.2013
Kusumahamijojo, Budiono. Filsafat Yunani Klasi: Relevansi Untuk Abad XXI. Jogjakarta: Jalasutra.2012
Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani.Jakarta: Universitas Indonesia. 2006
Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Muthahhari, Ayatulla Murtadha. Pengantar Epistemologi Islam. Jakarta: Shadra Press.2010.
Zuhry, Ach Dhofir. Mencangkul di Yunani. Malang: STF Al-Farabi. 2011.



Comments

TRENDING:

"Rokoknya Masih Ada" Kata Mahasiswa Tua Pada Yang Muda

Peta Pemikiran Barat (2): Abad Modern

LGBT Itu Wangi Lho!

Berjabat Tangan Dengan Filsafat

Stoisisme: Dari Pantheisme Hingga Logika Proposisi

Tak Cukup Katakan “Colorless Green Ideas Sleep Furiously” Pada Chomsky

Dongeng dan Realitas Sosial-Budaya Orang Bajo

Mahasiswa “Zaman Now” dan Kuasa Milenial

Sosialisme Marx: Dari Utopis Ke Ilmiah

VIEWER