Tuhan dan Hal di Luar Manusia: Rene Descartes Part 4

Oleh: Herlianto. A

Sumber: store nurske leksikon

Mazhabkepanjen.com - Setelah memastikan dirinya dan pikirannya eksis (part 2 dan 3), Descartes menyasar pengetahuan tentang Tuhan. Menurutnya Tuhan juga eksis. Dia memulai dari postulat bahwa pengetahuan mestinya memiliki dua kriteria yaitu: jelas (clear) dan terpilah (distinct).

Jelas berarti diketahui, sementara terpilah berarti dapat dibedakan dengan lainnya. Jika dua kriteria ini diterapkan pada semua pengetahuan, apakah pengetahuan tentang Tuhan memenuhi syarat pengetahuan itu?

Pada awalnya, Descartes mengujicobakan syarat pengetahuannya pada operasi matematika sederhana. Pengetahuan matematis tiga ditambah empat adalah jelas sama dengan tujuh. Ini jelas dan terpilah. Pengetahuan nonkontradiksi, misalnya, tidak mungkin besar sekaligus kecil, tua sekaligus muda. Ini juga jelas dan terpilah. Kendati begitu, Descartes masih mencoba meragukannya, dengan alasan jika Tuhan menciptakan keraguan pada diri manusia atas pengetahuan tersebut.

Keraguan atas pengetahuan matematik terjadi karena Tuhan. Andaikan Dia berkehendak bisa saja membuat kesimpulan manusia keliru saat menjumlahkan 3+4 atau menyimpulkan yang kontradiksi. Namun benarkah Tuhan akan melakukan penipuan? Ini perlu dijelaskan agar asumsinya memiliki dasar bukan sekedar mengada-ada. Descartes, mula-mula, memastikan apakah Tuhan itu ada, dan jika ada, mungkinkah dia menjadi penipu?

Terkait pengetahuan akan keberadaan Tuhan, Descartes melakukan inspeksi atas ide Tuhan dengan mempertanyakan apakah ide itu hadir laksana gambar pada benak. Seperti ketika memikirkan meja, lalu gambaran meja hadir di benak. Bagaimana dengan ide yang lain seperti kehendak, kemauan, dan afeksi lainnya yang tak bisa diwujudkan dalam gambar apapun?

Atau apakah ide Tuhan itu hadir secara independen tanpa mengacu pada realitas kongkrit apapun? Jika memang independen bagaimana untuk menjustifikasi kebenaran ide itu? Descartes menegaskan keyakinannya bahwa ketanpa-mengacuan suatu ide pada realitas akan membuat ide tersebut tak bisa dinilai salah atau benar. Benar dan salah terjadi pada saat menjustifikasi (mentasdik) ide pada realitas. Dia berujar:

Kekeliruan yang sering terjadi ditemukan dalam penilaian yang berisi fakta bahwa aku menilai ide-ide yang berada dalam diriku adalah serupa dengan atau sesuai dengan sesuatu yang pasti di luar diriku. Sesungguhnya andaikan aku menyatakan bahwa ide-ide itu hanyakah mode-mode tertentu dari pikiranku, dan tidak mengacu pada apapun juga, ide-ide itu tidak memberikan kriteria apapun untuk disebut salah.[1]

Lalu, dari mana datangnya ide Tuhan? Descartes menduga tiga sumber sebagai jawabannya, yaitu ide yang hadir sebagai bawan (innate), ide tak sengaja (advantitios), dan ide yang diproduksi setelah mengacu pada hal-hal yang eksternal (realitas di luar subjek yang mempersepsi).

Pada tiga sumber ini Descartes melakukan inspeksi kembali untuk memastikan sumber yang mana yang sesungguh menghasilkan ide Tuhan. Dia kemudian memeriksa ide-ide yang bersumber secara eksternal karena memang itu yang paling kasat mata dan dialami sehari-hari, bahkan tampak paling nyata ketimbang yang lain.

Jika sumber pengetahuan itu adalah eksternal maka sesungguhnya alam adalah guru dari semua pengetahuan manusia, dan pengalaman adalah sekolah terbaiknya. Semua ide akan diawali oleh suatu pengalaman.

Manusia tidak bisa memilih atau menghendaki ide yang lain dari apa yang dialami. Misalnya ide tentang panas didapat setelah memegang api, dan saat menyentuh api manusia tidak bisa memilih atau menginginkan ide selain panas, ide dingin misalnya.

Model ini diuji kembali oleh Descartes pada kasus pengetahuannya tentang matahari. Perenungannya akan matahari memunculkan dua model pengetahuan, yaitu ide matahari sebagaimana umumnya saat kita melihat matahari. Ide ini menjelma sama dengan ide-ide  lainnya yang didapat dari fakta eksternal secara inderawi, namun masih memerlukan pengujian.

Pada tahap pengetahuan ini matahati terlihat kecil. Kemudian selanjutnya yaitu pengetahuan yang disebut astronomikal. Di tahap ini, ide matahari bersifat internal atau bawaan, yang membuat manusia sadar bahwa meskipun matahari kelihatan kecil secara indera tetapi dia lebih besar beberapa kali lipat dari bumi. Pengetahuan astronomikal sumbernya adalah rasio itu sendiri, bukan hal-hal eksternal. Inilah pengetahuan yang disebut cahaya alam (natural light).

Dengan permenungan ini, Descartes mengkualifikasi pengetahuan inderawi sebagai tidak cukup jelas dan terpilah dalam memutuskan kebenaran. Pengetahuan inderawi hanya impuls untuk menyatakan bahwa realitas eksternal mengirimkan gambar dirinya melalui indera, lalu rasio kemudian mengolahnya.[2]

Dua tahap pengetahuan ini yang hari ini kita kenal sebagai pengetahuan iderawi a posteriori dan rasional a priori (bawaan, mode-mode pikiran). Dua pengetahuan ini tampak diciptakan dengan cara yang sama dalam diri manusia, walaupun hakikatnya berbeda. Yang pertama hanya mengantarkan manusia pada pengetahuan aksiden-aksiden, sementara yang kedua mengantarkan pada substansi, dan inilah pengetahuan yang digandrungi oleh Descartes.

Tak diragukan lagi, jika aku boleh mengatakannya, bahwa ide-ide yang mendisplay substansi padaku adalah lebih berisi realitas objektif dari pada ide-ide yang hanya merepresentasikan mode-mode aksiden. Ide-ide substansi itulah yang membuatku mengerti ketuhanan tertinggi, yang abadi, tak terbatas, maha tahu, maha kuasa, dan pencipta segala sesuatu selain dirinya.[3]

Jadi, pengetahuan Tuhan adalah bawaan bagi Descartes. Bawaan dalam hal ini bukan tiba-tiba ada sebagaimana umum dipahami pelajar filsafat, sehingga seolah-olah tidak rasional. Melainkan persis seperti pencarian pengetahuan astronomikal atas matahari dalam perenungan Descartes sebelumnya. Jadi suatu pencarian yang tidak hanya memanfaatkan indera dan rasio, tetapi memang jelas menggunakan keduanya secara proper.


[1] Rene Descartes. Meditations. Paragraf 34

[2] Rene Descartes. Meditations. Paragraf 40

[3] Rene Descartes. Meditations. Paragraf 41

"
"