Oksidentalisme: Proyek “Ambisius” Hassan Hanafi

Oleh: Herlianto A, penikmat kajian filsafat STF Al Farabi Kepanjen

Setelah sekian lama modernitas—beserta perangkat filosfis dan tatanan kebudayaannya—yang dikendalikan oleh Barat (Eropa) menguasai panggung dunia, riak-riak kejemuan akan abad ini terus bermunculan. Bahkan tokoh-tokoh Barat itu sendiri yang belakangan mengidentifikasi diri sebagai pemikir kontemporer  merombak narasi-narasi besar (grand narations) yang dipegang teguh kaum modernis, yang alih-alih mencerahkan justru terjebak pada mitosisasi dan ideologisasi diri.

Misalnya, di wilayah filsafat kesadaran Cartesian dibuat “babak belur” lantaran terlalu subjektif. Adalah Martin Heidegger yang menggebuk Cartesian habis-habisan, bahwa mereka (cartesian) dengan semboyan cogito ergo sum adalah orang-orang yang lupa diri akan Ada (Dasein). Bahwa bukan diri yang sadar (cogito) yang membuat diri itu ada, tetapi adanya (sum) dirilah yang memungkinkan berpikir. Mazhab Franfurt, J. Paul Sartre, dan sederet filsuf kontemporer lainnya turut memberi gebukan yang tak kalah pedihnya pada modernitas. Kejemuan itu pada akhirnya membuka ruang wacana hikmah dan tradisi intelektual Timur bangkit, lahir tokoh Sindolog (ahli Cina), Indolog (ahli India), Islamolog (ahli Islam).

Dalam suasana gejolak pemikiran demikian Hassan Hanafi hadir membawa spirit yang cukup radikal. Dia mengajukan gagasan besar untuk mengantisipasi meluas dan superioritasnya tradisi Barat atas tradisi non Barat. Proyek ini disebut oksidentalisme: studi tentang Barat dengan cara pandang Timur (Islam). Dalam buku Oksidentalisme: Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, pemikir asal Mesir itu mengulas panjang lebar apa itu oksidentalisme dan bagaimana merealisasikannya.  Tulisan ini akan banyak mengacu pada buku tersebut.

Dari The Other Ke Ego

Sejatinya, bagi Hanafi, Barat mencapai kematangannya melalui perluasan imperialisme dan kolonialisasi besar-besaran terhadap timur yang puncaknya pada abad 18-19. Narasi-narasi tentang peradaban Timur (Islam) dikoleksi sedemikian rupa lalu dijadikan bahan kajian. Dalam pengkajian ini orientalis memposisikan diri sebagai ego (subjek) dan Timur sebagai the other (objek). Dalam relasi egothe other ini, Timur ditempatkan sebagai yang terbelakang, perlu dicerahkan, diajari, diubah prilakuknya, dan dirombak tradisi bahkan peradabannya. Pendeknya, orientalis pemegang standar kebenaran di hampir semua aspek.

Dominasi Barat ini sangat luas sekali cakupannya, mulai dari filsafat dan segala bentuk pemikiran, literatur (sastra), sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, musik, agama, hingga soal ketuhanan. Di segala aspek itulah Timur inferior, karena itu agar setara kehidupan Timur perlu dicekoki ajaran mereka: saintisme, historisisme, rasialisme dan posivisme—yang sebetulnya berkontradiksi dengan hikmah-hikmah timur.

Alhasil, dominasi standar kebenaran ini sangat berpengaruh dan menyengsarakan terhadap kehidupan masyarakat Timur. Seorang dosen ingin menjadi profesor beberapa artikelnya harus terindeks Scoopus. Nah, proyek oksidentalisme ini hadir untuk membalikkan semua kedaan ini, membalik Timur dari sebagai the other menjadi ego. Hanafi menulis:

Tugas oksidentalisme adalah mengurai inferioritas sejarah hubungan ego dengan the other, menumbangkankan superioritas the other Barat dengan menjadikannya sebagai objek yang dikaji dan melenyapkan inferioritas kompleks ego dengan menjadikannya subjek pengkaji. Dengan kata lain menghilangkan rasa tak percaya diri di hadapan Barat soal bahasa, kebudayaan, ilmu pengetahuan, madzhab, teori, dan pendapat.[1]  
   
Kutipan ini menempatkan gagasan besar oksidentalisme untuk mengembalikan kekhasan peradaban Timur. Bahwa dalam beberapa segi cara hidup atau pandangan hidup Timur lebih tepat bagi masyarakat Timur itu sendiri. Justru mengadopsi Barat membuat kedirian (identitas diri) Timur menjadi tercerabut dari habitat sosialnya. Dengan kata lain dalam beberapa bidang Timur memiliki kekhasannya, mulai soal sejarah, pranata sosial, hingga soal filsafat.

Universalisasi Barat

Salah satu kekuatan Barat adalah mampu melakukan universalisasi standar dirinya terhadap semua yang non Barat. Apa-apa yang dilakukan no Barat, secara universal langsung diklaim produk Barat. Orang-orang Timur seperti mati kreativitas dan tak punya daya upaya yang dilakukan hanya skedar menguti Eropa. Soal universalisasi ini Hanafi sepertinya cukup geram, dia menulis:

Setiap seruan rasionalisme dan pengguna akal akan diklaim sebagai Cartesian; setiap seruan kebebasan perkataan dan perbuatan akan dibilang Liberalisme; setiap seruan sosialisme dan keadilan sosial tentu disebut Marxisme; setiap ajakan untuk membanggakan dan meyakini wujudnya adalah kulit Eksistensialisme; setiap tuntutan untuk melakukan pekerjaan dan mengejar keuntungan adalah Pragmatisme; dan setiap analisa pengalaman hidup dan deskripsi fenomena kesadaran adalah Fenomenologi yang diadopsi. [……..] Sehingga muncul kesan kita ditakdirkan untuk selalu mengutip dan tak mampu berkreasi.[2]

Dalam konteks periodeisasi sejarah misalnya Barat berhasil universalitas sejarah dirinya. Periode abad tengah atau zaman kegelapan (dark age) yang membentang antara 5 M hingga 14 M diuniversalkan sedemikian rupa, sehingga seakan-akan pada era itu semua sejarah dunia dalam kegelapan. Padahal setiap peradaban dan bangsa memiliki periode sejarahnya masing-masing yang bisa jadi berbeda dengan yang terjadi di Eropa. Pada tahun yang sama terjadi kegelapan di Barat belum tentu di Timur juga terjadi kegelapan. Di sini Hanafi menunjukkan bahwa era kegelapan di Barat itu sebetulnya era keemasan dalam peradaban Islam. Dimana Islam berhasil melakukan ekspansi daerah hingga ke kekawasan Persia, Romawi, hingga ke Makedonia. Di wilayah pengetahuan juga jaya dengan lahirnya pemikir-pemikir muslim.

Kemudian, jika ingin jujur dalam sejarah sebenarnya peradaban Timur hadir jauh lebih tua ketimbang Barat yang baru dimulai sejak era Yunani abad ke 6 SM. Peradaban Timur: Babilonia, Mesri Kuno, Cina, dan Persia sudah membentang sejak 2000 SM hingga kini. Bisa jadi  peradaban Timur itu adalah sumber pengetahuan dan kemajuan bagi Barat namun tidak mau diungkap secara terus terang.
Dominasi penulisan sejarah yang dikuasai Barat membuat kehidupan umat manusia baru dimulai sejak Yunani. Padahal, demikian Hanafi, tidak mungkin suatu peradaban besar dimulai dari nol. Pastilah sebelumnya ada peradaban yang mendahului dan ada sumber-sumber pengetahuan sebelumnya. Sejarah kehidupan bukanlah sejarah yang terpotong melainkan linear dan panjang. Karena itu dia memilah sumber pengetahuan Barat menjadi dua: yang terekspos yaitu Yunani dan yang tidak terekspos yaitu Mesir, Cina, Persia dst.

Sketsa Oksidentalisme

Lalu bagaimana memulai proyek oksidentalisme ini? Secara garis besar Hanafi telah memulainya dengan menyusun layout pembaharuan, yang menyangkut “Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama”, “Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat” dan “Sikap Kita Terhadap Realitas” dan “Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat”. Konsep ini telah dia uraikan dalam beberapa bukunya yang tak akan dibahas secara satu-persatu dalam tulisan pendek ini.

Hanafi dalam buku Oksidentalisme membuat semacam preskripsi bagaimana secara teknis langkah oksidentalisme ini dapat dimulai. Uniknya, dalam tahapan ini justru dimulai dari membaca Barat, atau tepatnya menjadikan Barat sebagai cermin Timur. Proyek perlawanan peradaban ini dapat dilakukan dalam beberapa fase. Di antaranya: pertama fase transferensi dengan membuka kembali buku-buku Yunani. Kedua, fase tranferensi makna yaitu proses penerjemahan dari bahasa Barat ke bahasa Timur.

Ketiga, fase anotasi memperhatikan substansi dan tema pemikiran dan memberikan sedikit “bumbu Timur” pada makna-makna itu. Keempat, fase peringkasan yaitu mempelajari suatu tema dengan fokus dan tanpa melakukan perdebatan dan pembuktian. Kelima, mengarang dalam bahasa pendatang dengan melakukan penyempurnaan sehingga kebudayaan the other mulai terbendung. Keenam, mengarang dalam lingkup kebudayaan pendatang tetapi mulai dipisahkan antara kebudayaan ego dan the other. Ketujuh, kritik terhadap kebudayaan pendatang dan menunjukkan lokalitas atau partikularitasnya. Kedelapan, menolak total kebudayaan pendatang karena tidak diperlukan lagi.
Cara-cara Hasan Hanafi ini sama dengan apa yang dilakukan oleh pemikir Islam awal macam Al Khindi, Ibnu Sina, Al Farabi dan berakhir di Ibn Rusdy. Cara ini juga dipertegas olehnya dalam buku Islamologi 2: Dari Rasionalisme ke Empirisme dengan mengungkap pendekatan anotasi yang pernah dilakukan Ibn Rusdy terhadap filsafat Yunani.

Dengan begitu, Hanafi satu pandangan dengan Abed Al Jabiri soal bagaimana kebudayaan Islam dikembangkan di tengah belantara dominasi Barat saat ini. Karena itu, tidak heran jika masih ditemukan ide-ide atau kutipan-kutipan Barat dalam karya-karya Hanafi, apalagi dia pernah belajar metodologi di Prancis. Dalam Islamologi 2 Hanafi terang-terangan melakukan komparasi antara Fenomenologi Huserl dengan iluminasi Suhrawardi. Pada Dari Akidah ke Revolusi sangat kental sekali semangat revolusioner kiri (Marxisme). Dia ingin mengawinkan spirit revolusioner Marxisme pada Islamisme. Tetapi buku yang lain seperti Studi Filsafat I: Pembacaan Atas Tradisi Islam Kontemporer dan Studi Filsafat II: Pembacaan Atas Tradisi Barat Modern sudah semakin menghilang konstruksi Baratnya, sekalipun masih ada dalam posri yang kecil.

Hasil dan Indeterminasi Oksidentalisme

Proyek oksidentalisme masih dihadapkan pada dua pertanyaan penting. Pertama, apa hasil dari oksidentalisme ini? Kedua, bagamana—nanti jika memang berhasil—membedakan oksidentalisme dengan orientalisme yang eksploitatif dan kecenderungannya mendeterminasi? Jangan-jangan oksidentalisme hanya menunggu giliran untuk merebut kekuasaan atas Barat dan mendeterminasi balik, sehingga tak ada bedanya antar oksidentalisme dan orientasi: sama-sama eksploitatif?

Menjawab pertanyaan pertama Hanafi merumuskan beberapa hal yang akan dicapai oleh oksidentali. Di antaranya: kontrol dan pembendungan atas kesadaran Eropa dari awal sampai akhir; mempelajari kesadaran Eropa dalam kapasitas sejarah bukan kesadaran yang berada diluar sejarah; mengembalikan Barat ke batas alamiahnya sehingga ia partikularitas akan tampak; menghapus “kebudayaan kosmopolit”, menemukan spesifikasi bangsa di seluruh dunia dan setiap bangsa memiliki peradaban dan kesadarannya sendiri; membuka jalan bagi terciptanya inovasi bangsa non Eropa dan membebaskannya dari donminasi akal Eropa; menghapus rasa rendah diri sebagai bangsa non Eropa; melakukan penulisan ulang sejarah agar dapat semaksimal mungkin persamaan bagi seluruh bangsa; memulai filsafat dari Timur; mengubah Timur dari objek menjadi subjek; menciptakan oksidentalisme sebgai ilmu pengetahuan yang akurat; membentuk peneliti tanah air yang membaca perdabannya dari kacamatanya sendiri; dimulainya generasi pemikir baru; oksidentalisme mengakhiri penyakit rasialisme.[3]

Pertanyaan kedua, dia juga memastikan bahwa oksidentalisme bukanlah suatu spirit akan kekuasaan. Melainkan memiliki motif yang paling manusiawi yaitu kesetaraan antar bangsa. “Oksidentalisme tidak memburu kekuasaan dan hak kontrol. Ia hanya menghendaki pembebasan diri dari pengaruh pihak lain agar ego dapat disejajarkan dengan the other dalam tingkat kedermawanan dan kesetaraan” demikian Hanafi.[4]

Dengan demikian, jika kita amati perkembangannya saat ini, oksidentalime masih sungguh “berbau” proposal. Realisasinya tentu saja tidak bisa dalam waktu dekat jika dilihat dari preskripsi yang dibuat oleh Hanafi. Namun, dia telah menunjukkan “ambisinya” untuk memberikan perlawanan atas dominasi Barat, yang motifnya tidak hanya merebut kesetaraan dalam pengetahuan tetapi juga untuk keadilan sosial. Akhirnya, jika oksidentalisme masih sebentuk proposal pengajuan, tetapi ini proposal yang layak di-ACC oleh semua kalangan (Islam).

#filsafatmazhabkepanjen


[1] Hassan Hanafi. Oksidentalisme: Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat (penerjemah: M. Najib Buchori). Jakarta: Paramadina. 1999. Hal., hal 26
[2] Ibid., hal 46
[3] Ibid., hal 51-59
[4] Ibid., hal 28

Posting Komentar

0 Komentar