Musso Menghunus Golok, Kiai Menunduk

Oleh: Herlianto A, petualang monumen sejarah


Begitulah monumen itu dibangun di atas bukit kecil lereng gunung Wilis Dusun Kresek, Kecamatan Dungus, Kebupaten Madiun. Untuk menyaksikan langsung karya seni patung tiga dimensi ini kita mesti menempuh sejauh delapan kilometer dari kota Madiun ke arah timur. Infrastruktur jalan yang disediakan cukup mulus. Meskipun sedikit berkelok, jarak ini hanya ditempuh sekitar 30 menit saja dengan sepeda motor.

Prit..prit..pak jukir minta motor saya diparkir di halaman depan. Biaya parkir tak semahal di Kota Malang yang menarget 2 ribu rupiah sekali prit. Di tempat ini cukup seribu rupiah motor sudah aman. Bersama seorang teman saya langsung turun dan menuju ke sebuah tumpukan warna coklat tua. Rupanya tumpukan ini mengilustrasikan puluhan korban manusia yang telah tewas dan ditutup sehelai kain besar dan lebar. Konon orang-orang ini adalah korban pembuhan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 yang sebelumnya sudah dimasukkan ke dalam sumur tua. Dan sebagian lainnya berserakan di sungai yang berada tak jauh dari monumen ini.

Di bagian belakang didirikan tembok membentang warna putih kecoklatan. Di bagian atas ada ukiran bertajuk “Korban Keganasan PKI Tahun 1948 Yang Gugur di Desa Kresek”. Kemudian di bawahnya dilanjutkan dengan daftar 17 nama korban, di antaranya: Kol Marhadi, Letkol Wiyono, Insp. Pol. Suparbak, May. Istiklah, RM. Sarjono (Patih Madiun), Kyai Husen (anggota DPRD Kabupaten Madiun), Abdul Rohman (asisten wedono Jiwan), Sostro Diprodjo (staf PG Rejo Agung), Suharto (guru sekolah pertanian Madiun), Sapirin (guru sekolah Budi Utomo Madiun), Supardi (wartawan freelance Madiun), Sukadi (tokoh masyarakat), K.H. Sidiq, R.Charis Bogio (wedono Kanigoro), K.H Barokah Fachruddin (ulama), dan Maidi Martodisomo (agen polisi). Saya mengeluarkan kamera dan mengcapture monumen itu.


Sampai di situ, saya melihat orang membawa selang ke rerumputan menghampar di sekitar monumen seluas 3,3 hektar ini. Mereka memasang sesuatu di ujung selang sehingga benda itu berputar memancarkan air ke sekitar membasahi rumput yang mulai mengering. Saya menyamperi dua orang ini, berkenalan, lalu ngobrol-ngobrol banyak hal. Mula-mula bapak ini—sebut saja namanya Sukadi—bercerita soal pekerjaannya memelihara monumen mengerikan ini selama 10 tahun terakhir. Mulai dari menyiram tanaman hingga melindungi kemungkinan orang yang berniat merusak patung dan relief yang ada.

Menurut pria ini, hari paling banyak pengunjung adalah pada saat 17 Agustus. Pada hari kemerdekaan ini, di situ digelar upacara kemerdekaan. Entah apa maksud seremoni kemerdekaan di monumen PKI yang dianggap melawan negara ini. Apakah ingin menunjukkan pada Musso kegagahan negara ini dengan mengibarkan bendera di situ. Atau ini suatu anggapan lain, bahwa apapun alasannya Musso tetaplah putra terbaik yang pernah dimiliki negara ini. Karena itu dia bisa jadi bukan musuh negara dan rakyat, dia hanya musuh orang-orang yang gandrung akan kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat dan menggunakan kekuatan militer pada waktu itu. Makanya Musso tak perlu digeret kepengadilan untuk membuktikan kesalahannya secara hukum, cukup dihabisi saja dengan tuduhan telah berbuat keji.

Penjaga monumen melanjutkan ceritanya bahwa para pengunjung tidak ditarik karcis untuk masuk ke wilayah ini. “Dari mana bapak dapat biaya hidup untuk keluarga?” tanyaku. Menurutnya dia digaji oleh pemerintah kabupaten Madiun, meskipun hanya cukup untuk makan. Tetapi lumayanlah, ditengah kesulitan mencari nafkah hidup dan terbatasnya dunia kerja saat ini. Menjadi buruh di perusahaan juga sudah tidak mungkin, keluhnya. Tenaganya sudah tidak layak konsusmsi bagi para pemodal. Ototnya sudah kendor, cukup renta dan tak mungkin menghasilkan nilai lebih (surplus value) bagi bos-bos itu.


Sementara untuk hari-hari biasa, dia melanjutkan, juga ada yang berkunjung ke tempat ini. Biasanya dari kalangan pemuda dan pemudi yang sekedar selfi menggunakan backgroun monumen dengan berbagai gaya, mulai dari menganggkat dua jari di atas kepala hingga senyum yang dipaksa biar cantik dan ganteng. Dari satu monumen ke monumen lain, mereka cekrak-cekrek menggunakan smartphone keluaran terbarunya. Setelah itu pulang, dipasang di instagram, facebook, dan twitter.

Sembari mendengar cerita bapak ini, saya sebetulnya dalam hati ingin bertanya kisah yang sebenarnya soal pemberontakan ini. Tetapi saya merasa percuma, kisah sejarah susah untuk dapat dibuktikan saat ini. Karena itulah kisah gerakan G/30/S PKI hingga kini tak menemukan titik terang siapa yang bersalah. Tak sedikit penelitian yang didokumentasi berupa buku dan film dokumenter macam Look of Silence (Senyap) dan The Act of Killing (Jagal) karya Joshua Oppenheimer, yang menunjukkan pengakuan bagaimana orang-orang PKI dilumat oleh Anwar Kongo menggunakan kawat yang diikatkan ke lehernya saat membunuh agar tidak berdarah.  

Kemudian bagaimana majalah Tempo menulis dari hasil investigasinya “Algojo 65”. Tetapi semua itu tak cukup. Malah pemutaran film tersebut dihalang-halangangi. Tak sedikit acaranya didatangi intel dan diserang lelaki bersurban. Di kampus dibubarkan oleh rektor dan petugas kampus. Sepertinya titik terang  semakin tidak mungkin. Karena itu, untuk peristiwa di monumen ini saya cukupkan membaca “Madiun 1948: PKI Bergerak” karya sejarawan Harry A. Poeze.

Pak Sukadi kemudian meneruskan menjelaskan beberapa monumen yang ada di situ. Berada paling atas adalah patung Musso menghunus pedang pada seorang kiai berjubah menunduk pasrah dengan kedua tangannya diikat ke belakang. Kedua lututnya menyentuh tanah seperti orang mau sujud. Sementara Musso mengerang diatasnya dengan pedang diayun ke udara, pas seperti orang hendak memenggal. Melihat dua patung ini ada rasa sesak di dada, kebencian, dan dendam ingin membalas balik pada Musso atas nama sang kiai. Saya kira siapapun yang melihat ini akan memberi kesaksian betapa kejam dan tak berprikemanusiaan Musso dan kroninya waktu itu.

Tetapi setelah saya menghela nafas dan coba bertanya pada diri, benarkah sejarah di Dusun Kresek ini sedahsyat itu. Mungkinkah ada kepentingan lain yang kemudian mensetting keadaan sehingga situasinya berbalik? Cuma sayang saya tidak hidup di zaman itu dan tidak melihat langsung kejadian. Saya memutuskan untuk tidak perlu ikut geram melihat monumen yang kenyataannya saya tidak tahu.

Kemudian di sebelah barat patung Musso ini ada relief yang menggambarkan proses pemberontakan oleh PKI sekaligus penumpasannya. Pada saat itu penumpasan dilakukan oleh devisi Siliwangi dipimpin oleh Kolenel Sadikin dan devisi Jawa Timur yang dipimpin oleh Kolonel Sungkono. Benar saja dua devisi ini menghabisi semua orang yang ditunjuk sebagai PKI. Mungkin paling gampang membunuh orang saat itu, hanya dengan menunjuk seseorang sebagai PKI maka keesokan harinya dia akan terbujur kaku. Tak kalah kejinya dengan pemberontakan PKI yang diceritakan.

Di sebelah timur patung Musso ada monumen anak-anak kecil sebagai anak para korban kekejaman PKI dan menuntut kepada patung Musso yang berada di posisi lebih atas. Tetapi sayangnya anak-anak dari anggota PKI yang orang tuanya ditangkap dan juga dibunuh tidak dipasang disini untuk menuntut kepada dua devisi tadi. “Tapi kan itu pelaku kejahatan mas, ya tidak perlu dibuatkan patung juga disini,” jawab pak Sukadi. Mendengar jawaban ini, saya hanya membatin dalam hati, apa iya ada dosa waris (original sin) macam itu bagi anak PKI.

Jam sekitar pukul 11.00. Terik matahari hampir pas diatas ubun-ubun dan terasa sangat panas. Pak Sukadi mengajak saya ke pendopo di sekitar monumen. Sesampainya di pendopo berukuran sekitar 5x4 meter, dia kembali menceritakan soal pendopo ini. Bahwa sebelumnya merupakan rumah penduduk yang dijadikan markas PKI, dan disinilah ajang pembantaian oleh PKI dilakukan, tuturnya. “Saat pembantaian disini banyak yang berteriak mas, tapi tidak ada yang berani mendekat. Lalu mayatnya dimasukkan ke dalam sumur itu,” dia menunjuk ke lokasi pertama saya melihat daftar nama para korban.

Pembicaraan terasa cukup panjang. Akhirnya saya mohon izin pada pak Sukadi untuk memfoto beberapa monumen sebagai kenangan pribadi. Sebelum beranjak dari pendopo saya masih melihat kalimat yang dipasang di pendopo berbunyi: “monumen Kresek merupakan kenangan pahit yang ditimbulkan oleh PKI yang tidak boleh terlupakan dan harus diingat oleh generasi muda bangsa dalam memperjuangkan tegaknya pancasila dan UUD 1945.”
Setelah memfoto beberapa tempat, saya pamit pulang.        
      

 #filsafatmazhabkepanjen

Posting Komentar

0 Komentar